Senin, 21 Februari 2011

SMP LIK SUKABUMI, Sekolahnya Manusia

By Munif Chatib


Mendisain Boarding School bukanlah hal yang mudah. Butuh ekstra kerja keras. Seorang sahabat pernah mengatakan kepada saya keberhasilan Boarding School dari berbagai sudut adalah 1:50, artinya di antara 50 boarding school, hanya satu yang berhasil. Ketika mendapat mandat, saya langsung belajar dan cari informasi sebanyak-banyaknya kepada sahabat-sahabat yang menyelenggarakan boarding school, sampai ke luar jawa sekalipun.

Dan benar, memang tantangannya sangat besar. Namun semua sahabat tahu, saya adalah orang suka tantangan. Dalam sebuah meeting, saya memberanikan diri mengurai detail banyaknya kegagalan boarding school. Baik dari sisi manajemen keuangan, komitmen dan kompetensi guru dan juga perilaku siswanya. Sampai-sampai banyak orangtua yang takut menyekolahkan anaknya untuk bersekolah di ‘boarding school.

Dari analisa tersebut, SMP LAZUARDI INSAN KAMIL di SUKABUMI mencoba menerapkan prinsip-prinsip boarding school, yaitu:

1. Jenjang yang paling tepat untuk boarding school adalah SMP, sebab di jenjang SMP sudah lepas dari GOLDEN AGE (usia emas) yaitu o – 9 tahun. Dalam usia emas, interaksi orangtua dan keluarga kepada anaknya harus mempunyai porsi yang besar.
2. Sekolah pondokan, cenderung tertutup dari masyarakat. SMP LIK sebalikya. Siswa malah harus terjun ke masyarakat. Mempelajari kondisi sosial sesuai dengan tema di kelas. Melakukan riset tentang problem sosial dan bagaimana cara penyelesainnya.
3. Menomor satukan pendidikan agama dan akhlak. Pendidikan Akhlak dikemas tersendiri menjadi bidang studi Character Building. Penuh simulasi dan praktek.
4. Life skill dipopulerkan. Para siswa mulai dikenalkan ‘entrepreneur ship’. Bagaimana memanfaatkan sebuah usaha dan produk agar bernilai dan bermanfaat.
5. Healty Life dikenalkan. Kebiasaan hidup sehat, yang berkaitan dengan memilih makanan dan minuman yang sehat dan halal. Menolak rokok dengan alasan kesehatan, bukan keterpaksaan.

Memang kami, SMP LIK SUKABUMI baru satu tahun eksis dengan 23 siswa laki-laki yang kami namakan EAGLE SQUAD atau PASUKAN ELANG. Tahun ajaran 2011 ini, kami menerima 2 kelas atau 50 siswa laki-laki. Besar harapan saya, sahabat yang kebingungan mencari sekolahnya manusia pada jenjang SMP, SMP LIK ini dapat dijadikan alternatif.

Mohon dukungan dan kerjasamanya. Dan terima kasih kepada wali murid siswa SMP LIK angkatan pertama atas dukungannya yang total kepada semua elemen sekolah. Sampai jumpa di SEKOLAHNYA MANUSIA.

SMP LIK Salabintana Sukabumi menerima pendaftaran:
Alamat Sekolah Jl. Salabintana Km. 6 Kp. Nyangkokot Rt. 01/03 Ds. Karawang Kec. Sukabumi, Sukabumi 43151 Telp (0266) 6248274 atau Hasan Mawardi : 0817109392

Fadhil : 0266 6248274 blog; http://www.lazuardiinsankamil.blogspot.com/

web: www.sekolah-unggul.com

Maulid Nabi Saw di SMP LIK

Hari itu tepatnya tanggal 15 Pebruari 2011 bertempat di Aula SMP LIK, para siswa lazuardi Insan Kamil menggelar peringatan mauled Nabi Saw. Ada 5 pertunjukkan yang diberikan para siswa; marawish, pembacaan simtudh dhurar, pembacaan puisi, khutbah Bahasa Inggris, shalawatan dan sumbangan beberapa lagu religi dari para guru.

Acara dimulai jam 9.40 dan berakhir pada jam 12.10. diawali dengan pembukaan oleh MC (Wima berbahasa Indonesia, Abyan berbahasa Inggris, dan Tanzil berbahasa Arab), dilanjut dengan pembacaan al-Qur`an oleh Alfawaz dan diterjemahkan oleh Alief PW, lalu sambutan oleh kepala sekolah, disambung dengan marawis oleh tim, khutbah bahasa Inggris oleh Robbi Kurniawan, pembacaan Simtudh Dhurar dan shalawatan oleh kakak2 senior, sumbangan beberapa lagu oleh tim guru dan berlanjut ke acara ini “ceramah mauled” oleh Ust. Yan Malik dari Sukabumi.

Walhasil kendati penuh kesederhanaan dan –karena sangat sederhananya- kami tidak mengundang siapapun Alhamdulillah peringatan mauled berjalan lancar dan sangat seruuuuuuuu. Acara ini betul2 dari siswa oleh siswa dan untuk siswa.
Salut untuk para siswa SMP LIK, kalian luuuar biasa.

2. Isi Sambutan kepsek;
Di Bulan ini dimana kangjeng Nabi Saw dilahirkan (maulid an-Nabi) adalah bualan kelahiran agama universal yang menjadi rahmatan lil`alamin, bukan agama ancaman atau laknatan lil`alamin.
Bagi saya –yang suka merayakan maulid nabi-, bulan ini adalah saat tepat merenungkan kembali keteladan Rasulullah Saw, untuk mendidik diri agar lebih rahmat, penuh kelembutan dan berlimpah kasih sayang terhadap siapa saja. Bulan yang mengajarkan keshalihan sosial yang kekuatannya luar biasa.

Nabi Saw bersabda; “al-muslim man saliman naas min lisaanihi wa yadih/seorang muslim (penebar salam) adalah seseorang dimana orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.
Allah Azza wa jalla berfirman; “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka..” (QS Al Imran 3:159).
Sambutan ditutup dengan mengutif sabda nabi Saw; anta ma`aman ahbabta (kamu –nanti di akhirat- akan ada bersama orang yang kamu cintai”. Semoga kita dibangkitkan dan dikumpulkan bersama Rasulullah Saw karena kita adalah para pecintanya.

3.Isi ceramah Ust. Yan Hasanudin Malik (Pak Bonar)
Ust. Ian menjelaskan tentang karakter seorang muslim, diantaranya adalah lapang dada dan berpikirna terbuka.
Salah satu ciri pribadi muslim adalah Arhabuhum shadran (lapang dadanya). Lapang dada, selalu ridha, optimis, berpikir positif, tidak mempersulit diri dan orang lain, memudahkan, menggembirakan, menebar kebaikan dan senyuman adalah sikap paling menonjol dari Nabi saw.
Ciri lain kepribadian seorang muslim adalah berfikiran terbuka dan berwawasan luas serta visioner (berpandangan ke depan). Karena kaum muslimin dulu menjalani dengan benar perintah iqra (membaca) dalam wahyu pertama dan mereka melakukannya benar-benar dengan bismi rabbik (dengan atas nama Tuhan), maka kaum muslimin bangkit menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan. Di dunia Islam lahir banyak sekali para ilmuan; matematika, sejarah, astronomi, anatomi, filsafat, kedokteran, optik, dll yang mengantarkan dunia Islam pada zaman keemasan. Kaum muslmin saat itu menjadi komunitas yang sangat terbuka hingga mau belajar ke ada siapapun dan mengajarkan ilmunya kepada siapa saja yang ingin belajar. Manyak sekali orang-orang Eropa dan Barat saat itu yang belajar kepada para ilmuan muslim hingga kini Barat mencapai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

by Hasan Mawardi

AHSANU IZZA TAQWIMA, SISWAKU YANG MEMBANGGAKAN

Menurutnya, banyak sekali hal-hal positif terkait suasana belajar di SMP Lazuardi Insan Kami Sukabumi, mulai kebersamaan antara teman, guru-guru yang bersahabat, jiwa kepemimpina lebih terasah, kondisi fisik dan mental yang lebih kuat.

“di sini juga saya dilatih mandiri dan memiliki jiwa pemimpin, di sini guru juga lebih bersahabat, selain guru teman-teman di sini juga lebih memiliki kebersamaan; di sini juga saya dapat melatih mental dan pisik”, ungkapnya.

Wima, demikian sapaan akrab siswa bernama Ahsanu Izza Taqwima ini, merasa banyak sekali perubahan selama menjadi siswa SMP LIK kendati baru berlangsung satu semester; lebih dewasa, mandiri, shalat tepat waktu, lebih bisa mengatur waktu dan lain sebagainya. Demikian ini seperti ia ungkapan;

“Yang pernah saya alami di LIK ini, kerjasama yang baik, jiwa kepemimpinan terasah. Di sini setiap orang dilatih untuk memiliki jiwa pemimpin yang baik; di sekolah ini juga, kami banyak diajari hal-hal positif seperti agama dan akhlak; di sini banyak sekali program-program positif”.

Diantara prestasi yang pernah ia alami –menurut pengakuannya- adalah terpilih sebagai siswa dengan motivasi belajar yang tinggi dalam program student of the week, pengarang cerita dalam bentuk penulisan karakter tokoh terbaik dan berhasil memotivasi rekan-rekan sekamarnya sehingga meraih juara kamar terbersih. Demikian ungkapnya;

Prestasi individu yang pernah saya raih ada dua : pertama, student of the week yang diumumkan saat upacara yaitu yang memiliki motivasi belajar yang meningkat; kedua, pengarang karakter/cerita terbaik saat unit activity jurnalistik; yang berkelompok adalah juara kebersihan kamar”.

Dan terkait cita-cita yang ingin dia raih setelah lulus sekolah di SMP LIK adalah menjadi seorang pemimpin yang adil, bijaksana dan bertanggungjawab, “Kemampuan yang ingin saya miliki adalah kemampuan pemimpin yang adil, bijaksana dan dapat bertanggung jawab”, ucapnya saat ditanya apa yang Anda harapkan setelah lulus dari sekolah ini.

Sukabumi, 21 Februari 2010
hasan mawardi

Mengatasi Anak Membangkang

Quality Time bersama Pak Munif Chatib,

Quality Time yang ini berbeda dengan Quality time lainnya karena dihadiri oleh beberapa tamu dan calon orang tua siswa dari siswa baru. Selain bapak Munif acara ini juga dihadiri oleh native speaker SMP Boarding Lazuardi Insan Kamil, Mr. Ian yang sempat berbincang-bincang dengan para audiens selama 20 menit.

Quality Time ini bertemakan MENANGANI ANAK “MEMBANGKANG”. Diawali dengan penjelasan sekilas tentang pasikologi dan tugas perkembangan usia remaja yang khas dengan “pemberontakan”. Pak Munif mengajak para orang tua dan para guru untuk lebih memahami kondisi psikologis dan tugas perkembangan anak usia remaja, dan jika ini terjadi maka cap membangkang oleh orang tua kepada anaknya atau oleh guru kepada anaknya akan berkurang atau bahkan menghilang.

Cap membangkang itu terjadi karena kecendrungan orang tua dan guru yang ingin menjadikan siswa atau anak seperti yang ia inginkan bukan yang anak/siswa inginkan. Jujur, para orang tua atau guru terkadang memaksakan kehendaknya dan pada saat itu biasanya muncul pernyataan; “maunya kamu ini apa sih, kok sama guru/orang tua aja tidak nurut, dasar kamu bisanya menentang dan membangkang pada guru/orang tua saja”.

Pak Munif juga berpesan, jangan sekali-kali memberikan perintah pada saat dan kondisi siswa/anak yang tidak tepat karena itu bisa dipastikan akan melahirkan pemberontakan, tunggulan kondisi anak/siswa hingga memasuki kondisi alfa (tenang, rilek, santai, senang, dll) baru perintah itu disampaikan.

Namun demikian, Pak Munif tidak menafikan adanya pemberontakan yang perlu disikapi dengan lebih tegas, yaitu ketika perilaku atau reaksi siswa/anak sudah mengarah pada tindakan anarkis atau pengrusakan atau tindakan-tindakan yang berpotensi mencelakai dirinya atau orang lain.


by Hasan Mawardi

Sex Education di SMP LIK

Pada tanggal 19 Februari 2011 SMP boarding Lazuardi Insan Kamil Sukabumi mengadakan kuliah umum Sex Education untuk seluruh siswa SMP LIK yang dibawakan oleh salah seorang ortu siswa, Ibunda Abyan Albiruni. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mewujudkan sekolah sebagai pusat pembentukan karakter bagi para siswa. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa mampu memahami kondisi seksualnyasecara baik dan mampu berperilaku secara efektif sesuai kondisi seksualnya.

Kegiatan tersebut dimulai pkl 13.00 WIB dan berakhir pada pkl 15.00 WIB. Bu Lis memulai dengan perkenalan, doa pembuka dan menyepakati beberapa aturan main. Selesai menyepakati aturan main Bu Lis mengenalkan sebuah game kepada para siswa bernama Lucky Number Seven dan dilanjutkan dengan materi ini Sex education dengan tema; KENAPA AKU?

Sebelum kegiatan berlangsung, Bu Lis sempat berbincang-bincang dengan pihak guru terkait perkembangan fisik dan psikis para siswa. Menurut beliau, kegiatan pada hari itu lebih difokuskan pada sarana bertukar informasi dan pengetahuan tentang seksualitas berdasar pada apa yang telah diketahui dan dipahami para siswa, sehingga diharapkan para siswa menjadi lebih aktif untuk mengungkapkan diri mereka. Para siswalah yang berperan sebagai narasumber.

Pembahasan dimulai dengan eksplorasi pengetahuan dan pemahaman siswa tentang apa itu sex education karena pada dasarnya para siswa telah mengetahuinya melalui berbagai sumber. Namun apakah para siswa pernah memeriksa secara sadar tentang perubahan yang terjadi dalam dirinya, khususnya secara seksual? Ternyata sebagian besar siswa belum pernah melakukannya, mereka hanya mengetahui secara teoritis dari sumber yang tidak jelas tanpa mempelajari secara riil. Pengenalan secara riil tentang alat seks dan fungsinya membuat seseorang semakin sadar tentang betapa bagian tubuh tersebut sangat penting untuk dijaga sehingga menjadi pribadi yang semakin matang bukan hanya secara fisik tapi secara psikologis.

Pada bagian lain para siswa juga ditanya pengetahuannya tentang ihtilam (mimpi basah), penyimpangan seksual, kecendrungan pada lawan jenis (pacaran).

Secara umum Bu Lis, bundanya Abi menekankan bahwa pengenalana dan pemahaman tentang seksualitas anak merupakan hal urgent karena akan sangat membantu untuk memasuki dan menjalani setiap tahap perkembangan dengan efektif. Beliau pun memberi kesempatan kepada para siswa untuk bertanya terkait permasalahan seksualnya.

Acara ditutup dengan mengulas ulang materi yang sudah dismapaikan, game penutup, berdoa, hamdalah dan salam.

Dan kami, atas nama sekolah mengucapkan terima kasih keada Ibundanya Abyan yang telah berkenan menjadi narasumber untuk kegiatan Parents Teaching ini, dan juga berharap semoga para siswa mampu memanfaatkan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya sehingga mampu memperoleh informasi dan pemahaman yang dibutuhkan sesuai dengan tahap perkembangan mereka yang memasuki masa remaja.
by; Hasan Mawardi

Jumat, 04 Februari 2011

ADA MI DALAM 3 IDIOTS (1)

Pernah mendengar tentang film 3 Idiots? Film ini adalah film Bollywood buatan India yang dimainkan oleh aktor kawakan Aamir Khan. Film ini begitu sukses menarik perhatian masyarakat dunia. Rekor box office dipegangnya dengan total pemasukan senilai 86 juta US Dollar. Mengisahkan tentang 3 orang mahasiswa insinyur bernama Farhan, Raju dan Rancho yang tinggal di satu kamar di hostel sebuah kampus. Mereka melewati hari-hari di kampus dengan berbagai macam hal yang menarik. Banyak aktifitas unik yang mereka kerjakan di kampus. Bagi yang belum menonton, segera tonton film ini karena akan memotivasi Anda untuk hidup lebih manusiawi.
Yang menarik dari film ini adalah kehidupan dan paradigma riil masyarakat India, cerita yang diangkat juga bukan tentang cinta-cintaan layaknya film-film India lain. Film ini lebih mengedepankan kehidupan mahasiswa di India yang penuh dengan tekanan, dan bahkan dari film ini juga, kita jadi tau kalo ternyata India menjadi negara tertinggi dunia dalam hal kematian mahasiswa yang terjadi akibat stress sama pendidikannya, cinta-cintaan di sini lebih banyak sebagai pemanis doang, benar-benar pemanis!
Setelah nonton film ini, saya seakan mendapat pencerahan yang amat sangat, film ini mengajak untuk lebih mengejar kemampuan yang sesungguhnya dan hidup dari passion (ikhtiar) bukan karena paksaan (jabr).
Kali pertama nonton film 3 idiot kesan lucu saja yang saya tangkap, namun setelah kembali membaca buku “Sekolahnya Manusia” Pak Munif Chatib tercipta relasi dalam jaringan syaraf-syaraf otak saya yang menghubungkan antara 3 idiot dan konsep MI (multiple Intelligence). Ide menulis pun muncul, “ADA MI DALAM 3 IDIOTS“, dan untuk lebih mendalami pesan film tersebut saya kembali menontonnya hingga tiga kali.
Mereka, 3 Idiots s (Farhan, Raju dan Rancho) sejatinya tidak cocok dinamakan idiot. Toh, mereka tidak benar-benar idiots. Seperti pepatah bilang, orang waras di tengah-tengah orang gila adalah gila dan mereka yang gila sungguhan adalah waras. Mereka dikatakan idiot karena mereka adalah orang-orang “nyeleneh” (out of the box). Mereka-mereka yang out of the box dan tidak sejalan dengan sistem yang telah diakui bertahun-tahun akan diberi gelar “si bodoh” dan akan dipinggirkan.
3 idiots menyuguhkan gambaran bagaimana sebenarnya pandangan kebanyakkan orang India dan mungkin juga sebagian dari orang Indonesia terhadap arti pendidikan. Chathur, seorang kawan lama dari 3 Idiots (Raju, Farhan, dan Rancho), menganggap bahwa pendidikan adalah sebuah alat yang semata-mata digunakan untuk menggapai kesuksesan, kekayaan, dan prestige juga untuk membalaskan dendamnya. Virus, direktur dari institut engineering terkemuka di India, tempat Raju, Farhan, dan Rancho menuntut ilmu juga “mendoktrin” murid-muridnya bahwa hidup itu adalah kompetisi: “Life is a race. If you don’t run fast someone will beat you and move faster than you”. Begitu pula dengan seorang professor di kelas Rancho. Ia sangat marah begitu mendapatkan penjelasan Rancho yang sangat gamblang, sederhana, juga dilengkapi contoh aplikatif mengenai definisi mesin. Profesor tersebut marah karena yang diiginkannya adalah definisi mesin sesuai dengan yang tertulis dalam textbook kuliah. Bahkan yang paling “ironis” adalah ketika para orang tua di India (dalam film tersebut maksudnya) menentukan masa depan anaknya sejak mereka diketahui jenis kelaminnya. Menjadi engineer untuk anak laki-laki dan menjadi seorang dokter untuk anak perempuan.
Situasi-situasi yang kurang lebih sama mungkin sering kita jumpai di sekitar kita. Cita-cita orang tua yang menggebu pada akhirnya mendamparkan anaknya di dalam dunia yang salah. Si anak mungkin memang mengikuti keinginan orang tuanya, tapi hatinya tidak dan jadilah kita menjumpai banyak mesin dalam kehidupan sehari-hari kita. Atau, sistem pendidikan yang sangat ketat, sistem penilaian yang membebani, tugas-tugas yang tidak aplikatif, tuntutan-tuntutan untuk mempelajari definisi dan bukannya aplikasi, cara belajar yang selalu mengkonsumsi doktrin dan pada akhirnya menghasilkan lulusan-lulusan yang tidak mampu berpikir out of the box, prinsip hidup untuk mengejar kesuksesan dan bukannya kenikmatan di balik setiap proses yang dilalui.
Setelah menonton film tersebut setiap orang mungkin akan menangkap kesan berbeda-beda sesuai dengan latar belakangnya. Buat saya yang keseharian menjalani profesi guru dan dosen kesan yang muncul adalah konsep pendidikan. 3 idiots adalah kritik terhadap masyarakat yang cendrung memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Mereka lupa pesan Gusti Nabi Muhamamd Saw; `allimû aulâdakum lizamânihim lâ lizamânikum (ajarilah anak-anak kalian sesuai zamannya bukan sesuai dengan zaman kalian”.
Saya melihat ada banyak pelajaran dalam film ini terkait pendidikan. Film ini mengajarkan pentingnya pengenalan konsep multiple Intelligences atau kecerdasan majmuk manusia. Bagi seorang guru atau orang tua janganlah memaksa anak untuk unggul dalam satu kecerdasan saja, seperti menonjolkan kecerdasan kognitif/intelektual saja, karena bisa saja kecerdasan anak didiknya ada pada jenis kecerdasan lain; seni, music, kinestetik, dll
Para orang tua, para penyelenggara sistem pendidikan seharusnya berpikir seperti Rancho di atas, mendukung apa yang menjadi talenta dari anak-anak kita dan bukannya memaksakan kehendak kita pada buah hati kita. Buatlah sebuah sistem pendidikan yang mencerahkan dan bukannya memicu tekanan. Seharusnya sebuah pendidikan itu mampu membentuk seseorang menjadi semakin open-minded dan berdaya kreatifitas tinggi. Pendidikan yang berdasarkan passion. Pendidikan yang tidak mengacu pada hal-hal yang aplikatif dan dapat dilalui dengan menyenangkan, sama menyenangkannya seperti ketika kamu sedang memainkan game favorit kamu. Hmm, bagaimana menurutmu?
Jangan menutup mata, Indonesia sadar atau tidak disadari, sudah banyak korban dari sistem pendidikan yang tidak manusiawi seperti ini. Mari kita ubah sekolah-sekolah yang ada benar-benar menjadi sekolahnya manusia, bukan sekolah para binatang atau para robot. Bukankah anak-anak kita manusia?

by; hasan mawardi

ADA MI DALAM 3 IDIOTS (2)

Pernah mendengar tentang film 3 Idiots? Film ini adalah film Bollywood buatan India yang dimainkan oleh aktor kawakan Aamir Khan. Film ini begitu sukses menarik perhatian masyarakat dunia. Rekor box office dipegangnya dengan total pemasukan senilai 86 juta US Dollar. Mengisahkan tentang 3 orang mahasiswa insinyur bernama Farhan, Raju dan Rancho yang tinggal di satu kamar di hostel sebuah kampus. Mereka melewati hari-hari di kampus dengan berbagai macam hal yang menarik. Banyak aktifitas unik yang mereka kerjakan di kampus, namun sayang beribu-ribu sayang keunikannya justru mengundang cibiran berbagai pihak, termasuk dari kolega-kolega dekatnya sekali pun. Ketiganya dianggap makhluk aneh di tengah para manusia yang “normal”.
Dalam film ini, Rancho, seorang pemuda biasa yang luar biasa berhasil memberikan pencerahan kepada beberapa orang di sekitarnya mengenai apa yang “salah” dari segala kenormalan hidup yang biasa kita jalani. Kata-katanya cukup “pedas” dan berani seperti ketika ia mengomentari sistem penilaian (grading) di universitasnya dan ketika ia dipaksakan mengajar di sebuah kelas oleh Virus. “.. this is a COLLEGE NOT a PRESSURE COOKER, ucapnya.
Film ini menjelaskan kecendrungan orang-orang India untuk menjadikan anak perempuannya sebagai dokter dan anak laki-lakinya sebagai insinyur. Bagi merek, tidak ada kebahagiaan dan kebanggaan sosial yang lebih tinggi dari itu.
Tentu, tidak ada orangg tua yang ingin melihat anak kesayangannya tertinggal dari anak-anak lain seusianya. Para orangtua –di India, Indonesia, juga di tempat-tempat lain- berlomba mencetak anak-anaknya menjadi bibit unggul. Orangtua, terutama yang datang dari kalangan mampu secara finansial, seakan tidak ingin melewatkan kesempatan memaksimalkan potensi anak mereka. Gayung pun bersambut, ditandai mulai bermunculannya berbagai jenis sekolah untuk memenuhi "ambisi" para orangtua itu. Efeknya, anak yang seharusnya menjadi penentu dirinya (subyek pedidikan) kini berubah menjadi obyek dari keinginan para orang tua. Kemudian Tidak hanya orang tua, pihak sekolah pun terkadang menjadi pihak yang suka “memaksakan” kehendak demi menjaga citra sekolah.
Untuk kasus Indonesia, pihak lain yang turut bertanggungjawab adalah penganut paradigma dunia pendidikan di tanah air yaang masih menggunakan faktor lama, yakni IQ yang berlaku umum. Dalam pandangan kecerdasan umum itu, pengelompokannya ialah IQ di atas 120 dianggap mampu memecahkan segala masalah. Ujungnya, anak masuk ke jurusan ilmu pengetahuan alam alias IPA di sekolah dan dianggap sebagai jaminan kesuksesan masa depan. Tak heran bila kemudian setiap orang menginginkan anaknya masuk jurusan IPA. Sementara IQ sama dengan 100 digolongkan biasa-biasa saja dan kemudian masuk jurusan ilmu pengetahuan sosial alias IPS. Kelompok IQ di bawah 90 dikelompokkan sebagai terbelakang dan masuk sekolah luar biasa.
Paradigma tersebut membuat anak dipompa terus dengan pelajaran sekolah dan dijejali berbagai les bahasa dan matematika yang mengacu kepada otak kiri, tetapi tidak memberi kesempatan perkembangan otak kanan. Anak yang berbakat seni atau olahraga terhambat demi mencapai nilai matematika yang tinggi. Akibatnya, anak tidak mempunyai keunggulan atau tidak percaya diri. Ada pula yang kemudian malah bermasalah, seperti terjerat narkoba atau tawuran.
Mengingat masih kuatnya paradigma tersebut tentu, perlu kiranya dilakukan sebuah revolusi pemikiran bahwa IQ tidaklah segalanya. Pada dasarnya tidak mungkin semua orang ber-IQ tinggi di semua bidang. Mozart, misalnya, mempunyai kecerdasan musikal yang tinggi tetapi kecerdasan sosial dan matematikanya tidak tinggi.
Solusinya adalah dengan membuka sekolah dan atau menerapkan di sekolah-sekolah yang sudah ada konsep kecerdasan majmuk (multiple Intelligence) dimana anak dibiarkan menemukan bakat dan minatnya sendiri. Salah satu sekolah yang mulai konsen pada penerapan multiple Intelligence adalah SMP Boarding Lazuardi Insan Kamil Sukabumi. Sekolah yang didsain sedemikian rupa oleh seorang pakar multiple Intelligence, Munif Chotib, Penulis buku besseler “Sekolahnya Manusia”.

by; Hasan Mawardi