By Hasan Mawardi dan Munif Chatib
Manusia, dibanding ciptaan Allah lainnya adalah makhluk yang paling unik dan istimewa. Keunikannya tidak hanya dikenali saat dibandingkan dengan makhluk-Nya yang lain namun di setiap personnya sendiri manusia memiliki keunikan masing-masing.
Thomas Amstrong menggambarkan potensi manusia yang beranekaragam tersebut dalam sebuah dongeng yang berjudul In Their Own Way: Discovering and Encouraging Your Child’s Multiple Intelligences (1987).
Diceritakan dalam buku tersebut bahwa dunia digemparkan oleh sebuah kabar bahwa para binatang akan membuat sebuah sekolah unggulan bagi para binatang yang akan memberikan pelajaran berbagai keterampilan yang dimiliki oleh semua binatang. Maka dibuatlah kurikulum yang memuat berbagai kecakapan hidup binatang seperti: terbang, lari, berenang, loncat, memanjat dan menggali.
Sekolahpun dibuka dan menerima murid dari berbagai belahan hutan. Hampir semua perwakilan spesies binatang datang untuk menjadi siswa di sekolah unggulan tersebut, mulai dari burung, kelinci, ikan, kanguru, monyet, kepiting dan sebagainya. Pada awalnya dikabarkan bahwa program sekolah berjalan lancar. Hingga semua murid merasakan nuansa baru yang bisa membuat mereka ceria. Hingga tibalah pada suatu hari yang mengubah keadaan sekolah tersebut.
Tersebutlah salah satu murid yang bernama kelinci. Jelas kelinci adalah binatang yang pandai untuk berlari. Ketika mengikuti pelajaran berenang. Kelinci ini hampir tenggelam. Pengalaman mengikuti kelas berenang membuat Kelinci prihatin. Lantaran sibuk mengurusi pelajaran renang, si kelinci ini pun tak pernah lagi dapat berlari secepat sebelumnya.
Setelah kasus kelinci, ada kejadian lain yang cukup membuat Kepala Sekolah Pusing. Ini melanda siswa lain yang bernama burung. Burung jelas binatang yang sangat hebat untuk terbang. Namun ketika mengikuti pelajaran memanjat, si burung tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik di sekolah. Akhirnya ia pun mengikuti les memanjat untuk mengejar ketinggalan pelajaran dengan siswa lainnya. Les itu ternyata menyita waktunya sehingga ia pun melupakan cara terbang yang sebelumnya sangat dikuasainya.
Demikian kesulitan demi kesulitan juga dialami oleh siswa lainnya seperti ikan, kanguru, monyet, kepiting dan lainnya. Para binatang itupun tidak lagi punya kesempatan untuk berprestasi dalam bidang keahliannya masing-masing. Itu semua dikarenakan mereka dipaksanakan untuk melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat alami mereka.
Berpijak dari temuan Howard Gardner tentang Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk) dengan sembilan kecerdasa dasar manusia mari kita memehami lebih baik tentang potensi yang dimiliki oleh setiap anak.
Namun sangat disayangkan, pihak yang terbanyak malah mengebiri potensi anak adalah institusi sekolah. Sekolah persis seperti mesin pencetak batu bata. Kecerdasan dan potensi anak yang beraneka ragam dpaksa dan dicetak dengan ukuran, bentuk, dan warna yang sama sesuai dengan disain sekolah. Kurikulum sekolah yang ketat dan memaksa anak untuk belajar hal-hal yang sebenarnya bukan merupakan kebutuhan anak dan keinginan anak.
Seorang sahabat, sudah berumur 40-an, sudah berkeluarga, namun masih belum menemukan jati dirinya.
“Munif, bantu aku. Aku menganggur lagi. Aku ini bingung sebenarnya cocoknya kerja apa? Pengacara sudah, marketing sudah, adminstrasi sudah, tapi jujur tidak ada yang cocok. Sebenarnya aku tahu bakatku apa. Tapi sejak SD sampai kuliah, AKU DIBUNUH OLEH KURIKULUM”
Semoga apa yang terjadi pada sahabat saya, tidak terjadi pada siswa-siswa kita yang sekolah di SMP LAZUARDI INSAN KAMIL SUKABUMI. Ketika saya menulis artikel ini, saya duduk di luar paviliun. Seperti biasanya, saya melihat siswa-siswa yang rajin bekerja sama membersihkan masjid mereka. Mereka selalu menyapa dengan wajah cerah dan gembira. Saya melihat mereka tidak mempunyai beban psikologis.
Betapa tidak, di sekolah ini, saya akan membagikan setiap siswa kaos yang bertuliskan EAGLE SQUAD, sang pemimpin, sang pengamanan, sang penolong dan lain-lain. Setiap siswa dihargai kecenderungan kecerdasannya.
Selain itu penerapan kurikulum di sekolah ini menggunakan KATALIS, yaitu pada saat tertentu anak diajak diskusi dan dipantik rasa ingin tahunya. Siswa diminta mengeutarakan apa saja yang ada dalam pikiran mereka, yang mana sebenarnya hal itulah yang prioritas ingin mereka ketahui saat ini. Maka muncullah tema-tema yang luar biasa dan tak terbayangkan sebelumnya. Kasus Israel dan Palestina, kasus Ariel, kasus Gayus, kenakalan remaja, apa itu seks sehat, dan lain-lain. Kami, paa pendidik segera menjadikan rasa ingin tahu siswa-siswa tersebut menjadi tema belajar yang menarik. Kami mengucapkan terima kasih atas kerjasama para siswa yang luar biasa, para guru yang bekerja seperti pejuang kemerdekaan, para orangtua yang tak henti-hentinya memberi support kepada kami demi kemajuan dan perkembangan kompetensi anak-anaknya. Terima kasih ya Allah, semoga 3 tahun di SMP LAZUARDI INSAN KAMIL SUKABUMI, anak-anak kami akan berjalan meniti kehidupan ini dengan bekal INSAN KAMIL dan mampu mewarnai dunia dengan multiple intelligence-nya. Semoga SMP Boarding lazuardi Insan Kamil benar-benar menjadi sekolahnya manusia yang tetap menghargai setiap potensi anak didiknya.
Amien.
SMP LAZUARDI INSAN KAMIL Salabintana Sukabumi menerima pendaftaran:
Alamat Sekolah
Jl. Salabintana Km. 6 Kp. Nyangkokot Rt. 01/03 Ds. Karawang Kec. Sukabumi, Sukabumi 43151
Telp (0266) 6248274 atau 0817109392 (Hasan Mawardi)
Selasa, 15 Maret 2011
TITIP REMAJA KAMI
by Dety Anggraeni (salah satu orang tua siswa LIK
on Monday, February 14, 2011 at 6:33am
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Untuk guru-guru Lazuardi Insan Kamil yang kami banggakkan...
syaidina Ali berkata:
Ajaklah anakmu brmain di 7 tahun pertama usianya,didiklah mereka di 7 tahun ke 2 usianya dan jadikanlah mereka sahabat di 7 tahun ke 3 usianya
Saat ini anak-anak kami sedang memasuki usia 7 tahun ke tiga. Sebagai orang dewasa orang tua dan guru selayaknya menjadi teman bagi mereka. Menjadi teman bukan berarti mereka tidak hormat pada kita, rasa hormat pada guru dan orang tua tetap harus ditumbuhkan.
Mereka sekarang sedang tumbuh menjadi remaja dan bukan anak-anak lagi. Masa remaja ini,masa dimana mereka sangat labil, mereka sendiri bingung akan perubahan yang mereka hadapi, mulai dari perubahan fisik, perubahan minat, perubahan hasrat, dan perubahan2 lain yang ada pada diri mereka.
Sungguh sebenarnya kamilah para orang tua yang seharusnya mendampingi mereka, berada ditengah2 mereka saat mereka bingung, berada didekat mereka saat bathin mereka konflik antara hasrat dan aturan2 norma yang berlaku.
Kamilah mestinya para orang tua yang seharusnya menyediakan pundak untuk mereka bersandar saat mereka lemah dan membutuh motivasi.
Mereka masih sangat labil, mereka bingung dan sedang mencari identitas siapa mereka sebenarnya. Mereka butuh bimbingan, mereka butuh teman tempat mereka bertanya, mengadu, dan bercerita.
Kamilah mestinya para orang tua yang harusnya menjadi teman sejati mereka. Namun kami memilih untuk sesuatu yang kami anggap paling baik untuk mereka.yaitu menitipkan mereka pada bapak n ibu guru yang kami banggakan.
Mereka ibarat masih seperti ulat yang masih butuh daun-daun segar, masih butuh ranting dan dahan untuk kelak menjadi kepompong yang kelak dikemudian hari di suatu tempat mereka akan bermetamorfosis sebagai kupu-kupu yang indah yang siap menggapai cita dan harapan mereka.
Kami sadar, bukanlah tugas yang ringan mendidik dan membina mereka. Pasti sangat melelahkan dan akan sangat menguras tenaga, waktu, dan fikiran. Kami titip remaja kami.
Mereka butuh teman curhat, teman menuangkan unek-unek, teman berbagi rasa... Mereka adalah anak-anak yang sudah besar namun mereka juga adalah orang dewasa yang masih kecil, itulah remaja... Mereka ada disimpangan antara anak-anak dan dewasa.
Mereka merasa sudah besar padahal mereka masih labil, mereka merasa sudah bisa padahal masih butuh bimbingan.
Bapak dan ibu guru... Jadilah teman untuk mereka, teman untuk berbagi, teman untuk bertanya tentang kebingungan mereka menghadapi masa remaja... Kami titip remaja kami.
Maaf bila kami terlampau berharap. Karena pilihan kami ini adalah yang kami anggap paling baik untuk mereka...
Kami titip remaja kami...
Salam,
Dety
by Dety Anggraeni (salah satu orang tua siswa LIK
on Monday, February 14, 2011 at 6:33am
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Untuk guru-guru Lazuardi Insan Kamil yang kami banggakkan...
syaidina Ali berkata:
Ajaklah anakmu brmain di 7 tahun pertama usianya,didiklah mereka di 7 tahun ke 2 usianya dan jadikanlah mereka sahabat di 7 tahun ke 3 usianya
Saat ini anak-anak kami sedang memasuki usia 7 tahun ke tiga. Sebagai orang dewasa orang tua dan guru selayaknya menjadi teman bagi mereka. Menjadi teman bukan berarti mereka tidak hormat pada kita, rasa hormat pada guru dan orang tua tetap harus ditumbuhkan.
Mereka sekarang sedang tumbuh menjadi remaja dan bukan anak-anak lagi. Masa remaja ini,masa dimana mereka sangat labil, mereka sendiri bingung akan perubahan yang mereka hadapi, mulai dari perubahan fisik, perubahan minat, perubahan hasrat, dan perubahan2 lain yang ada pada diri mereka.
Sungguh sebenarnya kamilah para orang tua yang seharusnya mendampingi mereka, berada ditengah2 mereka saat mereka bingung, berada didekat mereka saat bathin mereka konflik antara hasrat dan aturan2 norma yang berlaku.
Kamilah mestinya para orang tua yang seharusnya menyediakan pundak untuk mereka bersandar saat mereka lemah dan membutuh motivasi.
Mereka masih sangat labil, mereka bingung dan sedang mencari identitas siapa mereka sebenarnya. Mereka butuh bimbingan, mereka butuh teman tempat mereka bertanya, mengadu, dan bercerita.
Kamilah mestinya para orang tua yang harusnya menjadi teman sejati mereka. Namun kami memilih untuk sesuatu yang kami anggap paling baik untuk mereka.yaitu menitipkan mereka pada bapak n ibu guru yang kami banggakan.
Mereka ibarat masih seperti ulat yang masih butuh daun-daun segar, masih butuh ranting dan dahan untuk kelak menjadi kepompong yang kelak dikemudian hari di suatu tempat mereka akan bermetamorfosis sebagai kupu-kupu yang indah yang siap menggapai cita dan harapan mereka.
Kami sadar, bukanlah tugas yang ringan mendidik dan membina mereka. Pasti sangat melelahkan dan akan sangat menguras tenaga, waktu, dan fikiran. Kami titip remaja kami.
Mereka butuh teman curhat, teman menuangkan unek-unek, teman berbagi rasa... Mereka adalah anak-anak yang sudah besar namun mereka juga adalah orang dewasa yang masih kecil, itulah remaja... Mereka ada disimpangan antara anak-anak dan dewasa.
Mereka merasa sudah besar padahal mereka masih labil, mereka merasa sudah bisa padahal masih butuh bimbingan.
Bapak dan ibu guru... Jadilah teman untuk mereka, teman untuk berbagi, teman untuk bertanya tentang kebingungan mereka menghadapi masa remaja... Kami titip remaja kami.
Maaf bila kami terlampau berharap. Karena pilihan kami ini adalah yang kami anggap paling baik untuk mereka...
Kami titip remaja kami...
Salam,
Dety
Kamis, 10 Maret 2011
Ali Reza – Sang dokter spesialis
By Munif Chatib
“Aku pikir sekolah boarding itu serem, pelajarannya sulit, gurunya galak-galak, eh ternyata di SMP LAZUARDI INSAN KAMIL, tidak seperti itu.” Itulah jawaban Ali Reza, salah satu siswa cerdas di SMP LIK.
“Sekolahnya gampang gitu, santai, meskipun ada jadwal yang teratur. Apalagi gurunya, sangat sayang kepada siswa-siswanya.” Tampak sekali guratan puas pada wajah Ali Reza.
Saya pertama melihat Ali Reza badannya gemuk, namun setelah 1 semester ini menjadi langsing.
“Badan langsing, ini gara-gara di SMP LIK ini semuanya aku kerjakan sendiri. Sampai cuci piring segala. Padahal dulu aku tidak suka cuci piring. Aku mengangga cuci piring itu bukan pekerjaanku, meskipun yang makan adalah aku. Di sekolah ini aku sadar, bahwa mencuci piring sendiri adalah bentuk kecil dari sebuah tanggung jawab.”
“Pak Munif, aku benar-benar belajar manajemen waktu di sekolah ini. Aku bisa teratur ibadah samoai olah raga,” jawab Ali Reza ketika saya tanya tentang hal yang penting dalam hidup yang di dapat dari sekolah ini.
“Lalu, di botol impian, kamu menulis apa?”
“Aku pengin menjadi dokter spesialis. Aku akan banyak tolong orang yang sakit. Aku harus menjadi dokter yang bermanfaat buat orang banyak. Sepulu tahun lagi, Insyallah hari itu akan tiba, dr Ali Reza ” Jawab Ali Reza lantang.
Ya Allah kabulkan cita-cita luhur Ali Reza. Sehatkan tubuhnya, agar terus dapat mengikuti pelajaran di sekolah tercinta ini. Ya Allah berkahilah kedua orangtua Ali Reza, agar mereka terus mendukung cita-cita mulia sang putra. Dan karuniakan kesabaran dan ketauladanan yang kuat kepada guru-guru tercinta SMP LAZUARDI INSAN KAMI SUKABUMI. Amien.
Hadiri Open House SMP LAZUARDI INSAN KAMIL DI JAKARTA pada:
Hari, Tanggal: Ahad, 20 Maret 2011
Pukul : 08.30 – 11.00 wib
Pembicara: Munif Chatib
Tempat: Gedung SMP LAZUARDI GIS, Jl. Margasatwa 39 Jagakarsa Jakarta Selatan . Telp 021 78834604
Contact Person: Hasan Mawardi (0817109392) dan Bu Irma (081317774181)
Insyaallah para orangtua akan mendapatkan informasi yang berharga tentang bagaimana memilih sekolah yang tepat buat anak-anaknya. Sampai bertemu.
blog: http://www.lazuardiinsankamil.blogspot.com/
web: www.sekolah-unggul.com
“Aku pikir sekolah boarding itu serem, pelajarannya sulit, gurunya galak-galak, eh ternyata di SMP LAZUARDI INSAN KAMIL, tidak seperti itu.” Itulah jawaban Ali Reza, salah satu siswa cerdas di SMP LIK.
“Sekolahnya gampang gitu, santai, meskipun ada jadwal yang teratur. Apalagi gurunya, sangat sayang kepada siswa-siswanya.” Tampak sekali guratan puas pada wajah Ali Reza.
Saya pertama melihat Ali Reza badannya gemuk, namun setelah 1 semester ini menjadi langsing.
“Badan langsing, ini gara-gara di SMP LIK ini semuanya aku kerjakan sendiri. Sampai cuci piring segala. Padahal dulu aku tidak suka cuci piring. Aku mengangga cuci piring itu bukan pekerjaanku, meskipun yang makan adalah aku. Di sekolah ini aku sadar, bahwa mencuci piring sendiri adalah bentuk kecil dari sebuah tanggung jawab.”
“Pak Munif, aku benar-benar belajar manajemen waktu di sekolah ini. Aku bisa teratur ibadah samoai olah raga,” jawab Ali Reza ketika saya tanya tentang hal yang penting dalam hidup yang di dapat dari sekolah ini.
“Lalu, di botol impian, kamu menulis apa?”
“Aku pengin menjadi dokter spesialis. Aku akan banyak tolong orang yang sakit. Aku harus menjadi dokter yang bermanfaat buat orang banyak. Sepulu tahun lagi, Insyallah hari itu akan tiba, dr Ali Reza ” Jawab Ali Reza lantang.
Ya Allah kabulkan cita-cita luhur Ali Reza. Sehatkan tubuhnya, agar terus dapat mengikuti pelajaran di sekolah tercinta ini. Ya Allah berkahilah kedua orangtua Ali Reza, agar mereka terus mendukung cita-cita mulia sang putra. Dan karuniakan kesabaran dan ketauladanan yang kuat kepada guru-guru tercinta SMP LAZUARDI INSAN KAMI SUKABUMI. Amien.
Hadiri Open House SMP LAZUARDI INSAN KAMIL DI JAKARTA pada:
Hari, Tanggal: Ahad, 20 Maret 2011
Pukul : 08.30 – 11.00 wib
Pembicara: Munif Chatib
Tempat: Gedung SMP LAZUARDI GIS, Jl. Margasatwa 39 Jagakarsa Jakarta Selatan . Telp 021 78834604
Contact Person: Hasan Mawardi (0817109392) dan Bu Irma (081317774181)
Insyaallah para orangtua akan mendapatkan informasi yang berharga tentang bagaimana memilih sekolah yang tepat buat anak-anaknya. Sampai bertemu.
blog: http://www.lazuardiinsankamil.blogspot.com/
web: www.sekolah-unggul.com
Minggu, 27 Februari 2011
MENYOAL KEUNGGULAN SEKOLAH UNGGUL
Tak dapat dipungkiri setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi manusia unggul. Animo masyarakat pun untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah-sekolah “unggulan” cukup tinggi. Setiap tahun ajaran baru sekolah-sekolah “unggulan” dibanjiri calon siswa, karena adanya keyakinan bisa melahirkan manusia-manusia “unggul”. Benarkan sekolah-sekolah unggulan kita mampu melahirkan manusia-manusia unggul?
Sebutan sekolah unggulan itu sendiri sebenarnya kurang tepat. Kata “unggul” menyiratkan adanya superioritas dan “kesombongan” intelektual yang sengaja ditanamkan di lingkungan sekolah. Para siswa sekolah unggulan merasa lebih super dibanding siswa lain yang sekolah di sekolah tanpa label unggulan, demikian juga para orang tuanya yang merasa super karena anaknya sekolah di sekolah “unggulan , bahkan mungkin sebagian orang tua memaksakan kehendak memasukkan anaknya ke sekolah unggul semata-marta karena ingin menaikkan status dan gengsi sosial saja.
Semestinya sekolah unggulan di Indonesia tidak hanya mengukur sebagian kemampuan akademis. Dalam konsep yang sesungguhnya, sekolah unggul adalah sekolah yang secara terus menerus meningkatkan kinerja dan menggunakan sumberdaya yang dimilikinya secara optimal untuk menumbuh-kembangkan prestasi siswa secara menyeluruh. Berarti bukan hanya prestasi akademis saja yang ditumbuh-kembangkan, melainkan potensi psikis, fisik, etik, moral, religi, emosi, spirit, adversitas dan intelegensi.
Keunggulan dan ketidakunggulan sekolah sebenarnya terletak pada bagaimana cara sekolah merancang-bangun sekolah sebagai organisasi sehingga menciptakan iklim sekolah yang mempu membentuk keunggulan sekolah. Semua itu bermuara kepada kunci utama sekolah unggul adalah keunggulan dalam pelayanan kepada siswa dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi dan menghargasi prestasi setiap siswa berdasar kondisinya masing-masing.
Karena itu, jangan pernah melihat keunggulan sekolah hanya dari ketatnya selesi masuk, sarana prasarana yang lengkap dan bayaran yang besar. Wajar saja bila bahan masukannya bagus, diproses di tempat yang baik dan dengan cara yang baik pula maka keluarannya otomatis bagus. Yang seharusnya disebut unggul adalah apabila masukan biasa-biasa saja atau kurang baik tetapi diproses ditempat yang baik dengan cara yang baik pula sehingga keluarannya bagus.
Sekolah unggul adalah sekolah yang tidak perlu melakukan pemisahan antara anak yang memiliki bakat keunggulan dengan anak yang tidak memiliki bakat keunggulan. Kelasnya dibuat se-heterogen mungkin sehingga anak yang memiliki bakat keunggulan bisa bergaul dan bersosialisasi dengan semua orang dari tingkatan dan latar berlakang yang beraneka ragam. Pelaksanaan pembelajaran harus menyatu dengan kelas biasa, hanya saja siswa yang memiliki bakat keunggulan tertentu disalurkan dan dikembangkan bersama-sama dengan anak yang memiliki bakat keunggulan serupa. Jika anak yang biasa diberi bobot 5 maka anak yang memiliki bakat keunggulan dan minat lebih diberi bobot materi 8. Mereka tetap masuk dalam kelas reguler namun diberi pengayaan pelajaran yang lebih banyak.
Keunggulan sekolah “unggulan” seharusnya tidak hanya didasarkan pada kemampuan intelegensi dalam lingkup sempit yang berupa kemampuan logika-matematika yang diwujudkan dalam test IQ seperti dianut sekolah-sekolah “unggulan” itu. Keunggulan seseorang dapat dijaring melalui berbagai keberbakatan atau kecerdasan majmuk (multiple intelligence) seperti yang sekarang sedang dikembangkan di SMP Boarding Lazuardi Insan Kamil.
Menurut Munif Chatib, Pakar Multiple Intelligence, penulis buku besseler SEKOLAHNYA MANUSIA yang kini menjadi konsutan pendidikan SMP Boarding Lazuardi Insan Kamil Sukabumi, sekolah unggul adalah sekolah yang unggul dalam proses bukan dalam input. Yang betul adalah the best proces bukan the best input. Demikian itu disimpulkan dari paradigma kuat bahwa sekolah seharusnya menjadi agent of change.
Menurut beliau, ciri-ciri sekolah yang menganut ”BEST PROCESS” ini adalah sebagai berikut: pertama, sekolah ini tidak menerapkan tes masuk pada siswa barunya. Biasanya sekolah ini menggunakan sebuah perangkat riset untuk mengetahuai kondisi kemampuan siswa yang masuk ke sekolah tersebut. Perangkat ini dikenal dengan Multiple Intelligence Research (MIR) yang mampu mengetahui banyak dimensi kondisi kemampuan dan kekurangan siswa terutama tentang bagaimana gaya belajar siswa.
Kedua, sekolah dan guru pada sekolah ini akan mendapatkan sebuah kenyataan tentang kemampuan akademik dan moral siswa-siswa barunya sangat beragam. Sehingga hal ini merupakan tantangan bagi guru untuk mengubah menjadi ke arah positif. Akhirnya guru-guru di sekolah ini dituntut menjadi ”agen perubah” . Mengubah kondisi akademik dan moral siswa yang negatif menjadi positif.
Menurut Tom J. Parkins –yang dikutif oleh Munif Chatib-, inilah sekolah yang sebenarnya, sekolah yang menerima segala kondisi siswanya. Kemudian kondisi itu dipelajari dan diteliti, lalu dengan data tersebut, para guru mencoba mengembangkan kemampuan siswa-siswanya dengan cara yang berbeda-beda. Sekolah unggul adalah sekolah yang menitikberatkan pada kualitas proses pembelajaran, dan ini ada pada pundak guru, bukan pada kualitas input siswanya.
Guru-guru pada sekolah ini biasanya kreatif, sebab meyakini bahwa gaya mengajar guru tersebut harus disesuaikan dengan gaya belajar siswanya. Tuntutan mengajar dengan pola demikian hanya dapat dilakukan oleh guru-guru yang handal, punya dedikasi dan kompetensi mengajar yang baik. Dengan demikian sekolah yang menerapkan konsep ini, biasanya jadwal pelatihan guru sangat padat. Guru benar-benar diharapkan profesional dan menjadi agen perubah. “jika ingin tahu sekolah itu unggulan atau tidak, maka lihatlah jadwal pembekalan dan pelatihan yang diberikan kepada guru-gurunya. Jika guru-gurunya banyak mendapatkan pelatiah berarti sekolah tersebut masuk kategori unggul”, jawab Pak Munif saat ditanya penulis “apa kriteria sekolah unggul menurut Pak Munif?”. Wassalam (Hasan Mawardi)
Sebutan sekolah unggulan itu sendiri sebenarnya kurang tepat. Kata “unggul” menyiratkan adanya superioritas dan “kesombongan” intelektual yang sengaja ditanamkan di lingkungan sekolah. Para siswa sekolah unggulan merasa lebih super dibanding siswa lain yang sekolah di sekolah tanpa label unggulan, demikian juga para orang tuanya yang merasa super karena anaknya sekolah di sekolah “unggulan , bahkan mungkin sebagian orang tua memaksakan kehendak memasukkan anaknya ke sekolah unggul semata-marta karena ingin menaikkan status dan gengsi sosial saja.
Semestinya sekolah unggulan di Indonesia tidak hanya mengukur sebagian kemampuan akademis. Dalam konsep yang sesungguhnya, sekolah unggul adalah sekolah yang secara terus menerus meningkatkan kinerja dan menggunakan sumberdaya yang dimilikinya secara optimal untuk menumbuh-kembangkan prestasi siswa secara menyeluruh. Berarti bukan hanya prestasi akademis saja yang ditumbuh-kembangkan, melainkan potensi psikis, fisik, etik, moral, religi, emosi, spirit, adversitas dan intelegensi.
Keunggulan dan ketidakunggulan sekolah sebenarnya terletak pada bagaimana cara sekolah merancang-bangun sekolah sebagai organisasi sehingga menciptakan iklim sekolah yang mempu membentuk keunggulan sekolah. Semua itu bermuara kepada kunci utama sekolah unggul adalah keunggulan dalam pelayanan kepada siswa dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi dan menghargasi prestasi setiap siswa berdasar kondisinya masing-masing.
Karena itu, jangan pernah melihat keunggulan sekolah hanya dari ketatnya selesi masuk, sarana prasarana yang lengkap dan bayaran yang besar. Wajar saja bila bahan masukannya bagus, diproses di tempat yang baik dan dengan cara yang baik pula maka keluarannya otomatis bagus. Yang seharusnya disebut unggul adalah apabila masukan biasa-biasa saja atau kurang baik tetapi diproses ditempat yang baik dengan cara yang baik pula sehingga keluarannya bagus.
Sekolah unggul adalah sekolah yang tidak perlu melakukan pemisahan antara anak yang memiliki bakat keunggulan dengan anak yang tidak memiliki bakat keunggulan. Kelasnya dibuat se-heterogen mungkin sehingga anak yang memiliki bakat keunggulan bisa bergaul dan bersosialisasi dengan semua orang dari tingkatan dan latar berlakang yang beraneka ragam. Pelaksanaan pembelajaran harus menyatu dengan kelas biasa, hanya saja siswa yang memiliki bakat keunggulan tertentu disalurkan dan dikembangkan bersama-sama dengan anak yang memiliki bakat keunggulan serupa. Jika anak yang biasa diberi bobot 5 maka anak yang memiliki bakat keunggulan dan minat lebih diberi bobot materi 8. Mereka tetap masuk dalam kelas reguler namun diberi pengayaan pelajaran yang lebih banyak.
Keunggulan sekolah “unggulan” seharusnya tidak hanya didasarkan pada kemampuan intelegensi dalam lingkup sempit yang berupa kemampuan logika-matematika yang diwujudkan dalam test IQ seperti dianut sekolah-sekolah “unggulan” itu. Keunggulan seseorang dapat dijaring melalui berbagai keberbakatan atau kecerdasan majmuk (multiple intelligence) seperti yang sekarang sedang dikembangkan di SMP Boarding Lazuardi Insan Kamil.
Menurut Munif Chatib, Pakar Multiple Intelligence, penulis buku besseler SEKOLAHNYA MANUSIA yang kini menjadi konsutan pendidikan SMP Boarding Lazuardi Insan Kamil Sukabumi, sekolah unggul adalah sekolah yang unggul dalam proses bukan dalam input. Yang betul adalah the best proces bukan the best input. Demikian itu disimpulkan dari paradigma kuat bahwa sekolah seharusnya menjadi agent of change.
Menurut beliau, ciri-ciri sekolah yang menganut ”BEST PROCESS” ini adalah sebagai berikut: pertama, sekolah ini tidak menerapkan tes masuk pada siswa barunya. Biasanya sekolah ini menggunakan sebuah perangkat riset untuk mengetahuai kondisi kemampuan siswa yang masuk ke sekolah tersebut. Perangkat ini dikenal dengan Multiple Intelligence Research (MIR) yang mampu mengetahui banyak dimensi kondisi kemampuan dan kekurangan siswa terutama tentang bagaimana gaya belajar siswa.
Kedua, sekolah dan guru pada sekolah ini akan mendapatkan sebuah kenyataan tentang kemampuan akademik dan moral siswa-siswa barunya sangat beragam. Sehingga hal ini merupakan tantangan bagi guru untuk mengubah menjadi ke arah positif. Akhirnya guru-guru di sekolah ini dituntut menjadi ”agen perubah” . Mengubah kondisi akademik dan moral siswa yang negatif menjadi positif.
Menurut Tom J. Parkins –yang dikutif oleh Munif Chatib-, inilah sekolah yang sebenarnya, sekolah yang menerima segala kondisi siswanya. Kemudian kondisi itu dipelajari dan diteliti, lalu dengan data tersebut, para guru mencoba mengembangkan kemampuan siswa-siswanya dengan cara yang berbeda-beda. Sekolah unggul adalah sekolah yang menitikberatkan pada kualitas proses pembelajaran, dan ini ada pada pundak guru, bukan pada kualitas input siswanya.
Guru-guru pada sekolah ini biasanya kreatif, sebab meyakini bahwa gaya mengajar guru tersebut harus disesuaikan dengan gaya belajar siswanya. Tuntutan mengajar dengan pola demikian hanya dapat dilakukan oleh guru-guru yang handal, punya dedikasi dan kompetensi mengajar yang baik. Dengan demikian sekolah yang menerapkan konsep ini, biasanya jadwal pelatihan guru sangat padat. Guru benar-benar diharapkan profesional dan menjadi agen perubah. “jika ingin tahu sekolah itu unggulan atau tidak, maka lihatlah jadwal pembekalan dan pelatihan yang diberikan kepada guru-gurunya. Jika guru-gurunya banyak mendapatkan pelatiah berarti sekolah tersebut masuk kategori unggul”, jawab Pak Munif saat ditanya penulis “apa kriteria sekolah unggul menurut Pak Munif?”. Wassalam (Hasan Mawardi)
Sabtu, 26 Februari 2011
“BEST PROCESS” – INDIKATOR SEKOLAH UNGGUL
Munif Chatib
Seorang kawan, Tom J. Parkins, yang akan menamatkan program doktoral di Harvard University meminta bantuan penulis untuk meneliti indikator-indikator sekolah unggul yang ada di Indonesia. Tentu saja penulis dibekali beberapa alat-alat riset, baik yang berupa questioner baku maupun yang harus “disesuaikan” dengan kondisi di Indonesia. Setelah bekerja sama selama 3 bulan, Tom J. Parkins memberikan kesimpulan yang luar biasa!
Indikator sebuah sekolah dapat dilihat dari tiga komponen, yaitu INPUT, PROSES, dan OUTPUT.
Pada komponen INPUT, adalah dititikberatkan pada bagaimana sekolah tersebut menerima siswa baru. Ada dua konsep yang berbeda dalam cara sekolah menerima siswa barunya, yaitu:
1. Sekolah dengan konsep ”BEST INPUT”
Sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT”, yaitu bahwa siswa-siswa unggul yang diharapkan masuk dan mendaftar di sekolah tersebut dengan cara harus melewati beberapa tes formal dan kognitif. Sekolah tersebut meyakini bahwa keunggulan sekolahnya berdasarkan keunggulan akademik siswa-siswa baru yang lulus tes masuk. Artinya sekolah unggul adalah sekolah yang inputnya unggul.
Ciri-ciri sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT” adalah sebagai berikut:
· Menerapkan tes masuk kepada siswa-siswa yang akan mendaftar ke sekolah tersebut. Tes masuk ini bahkan menilai kemampuan akademik siswa dan moral siswa. Diharapkan siswa yang diterima adalah siswa-siswa yang mempunyai nilai akademik positif (baca: pandai) dan moral positif (baca: baik, tidak nakal).
· Apabila jumlah siswa yang mendaftar melebihi jumlah kapasitas sekolah, maka siswa yang berhasil diterima adalah hasil sortir dari nilai tes masuk yang tertinggi sampai sebatas jumlah kapasitas yang tersedia. Sedangkan siswa-siswa yang nilainya tidak masuk atau lebih dari kapasitas sekolah tersebut maka dianggap tidak berhasil diterima di sekolah tersebut.
· Biasanya sekolah tersebut tidak lagi menganggap perlu tahap proses pembelajaran. Terutama para guru sudah merasa cukup mengajar biasa-biasa saja sebab kebanyakan siswanya pandai-pandai.
· Biasanya sekolah tersebut mempunyai guru-guru yang cara mengajarnya konservatif dan tidak kreatif.
· Keberhasilan sekolah tersebut pada output lebih disebabkan keunggulan dan minat siswa dan keluarganya untuk dapat berhasil lulus. Sedangkan peranan guru dalam keberhasilan siswanya relatif kecil.
Kritik untuk sekolah ”BEST INPUT”:
· Menurut Tom J. Parkins, hampir 99% sekolah di Indonesia dalam model penerimaan siswa barunya menganut ”BEST INPUT”. Hal ini berlaku juga pada sekolah yang dikatakan unggul atau favorit. Hanya beberapa sekolah unggul saja di Indonesia yang sudah meninggalkan konsep ini.
· Sekolah ”BEST INPUT” mengkerdilkan fungsi sekolah sebenarnya. Menurut Tom, sekolah pada hakekatnya adalah wadah untuk untuk mengubah siswa-siswa yang belajar di dalamnya untuk dapat berhasil. Jadi sekolah dan guru adalah sebagai ”agen perubah” siswa-siswanya. Sekolah dan guru harus mampu mengubah siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral negatif menjadi siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral positif. Jadi dapat dikatakan naif sekali apabila sekolah malah tidak menginginkan siswa-siswa yang mempunyai kelemahan yang daftar dan masuk ke sekolah tersebut. Sekolah seperti itu berarti sekolah yang tidak melakukan fungsinya sebagai ”agen perubah”.
· Kualitas Tes Masuk pada sekolah BEST INPUT juga perlu dievaluasi. Artinya sangat tidak manusiawi. Menilai kemampuan siswa dengan besarnya angka-angka kognitif pada kualitas pengetahuan yang rendah sangat tidak adil. Penulis pernah menginterview seorang kepala sekolah sebuah SD di Surabaya tentang tes masuk penerimaan siswa baru. Kepala sekolah tersebut mengatakan bahwa di sekolahnya siswa yang dapat diterima di sekolahnya adalah yang mempunyai nilai 75 ke atas. Sedangkan nilai 74 ke bawah tidak diterima. Ketika penulis menanyakan kepada kepala sekolah tersebut tentang sebenarnya apa bedanya nilai 75 dan 74, hanya terpaut 1 digit saja, namun punya dampak yang berbeda. Seseorang tidak dapat masuk sekolah yang diinginkannya hanya karena kurang 1 digit. Tentu saja kepala sekolah tersebut tidak mampu menjawabnya.
· Kualitas guru pada sekolah yang menganut konsep ini, biasanya juga rendah atau biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa pada mutu guru. Bahkan menurut penelitian penulis pada sekolah yang favorit di Surabaya, beberapa guru bahkan dianggap ”gagap teknologi” (baca: gaptek) oleh siswa-siswanya dalam hal teknologi internet. Guru merasa tidak harus berusaha sekuat mungkin untuk mengubah siswanya menjadi pandai dan mengerti banyak ilmu pengetahuan, sebab kebanyakan siswanya sudah pandai. Apalagi biasanya siswa sudah kursus banyak bidang studi di luar sekolah.
2. Sekolah dengan konsep ”BEST PROCESS”
Sekolah yang menganut konsep bahwa sekolah unggul tidak menitikberatkan pada kualitas akademik siswa-siswa baru yang masuk ke sekolah tersebut. Sekolah model ini dengan suka cita menerima semua siswa dalam kondisi apapun.
Ciri-ciri sekolah yang menganut ”BEST PROCESS” ini adalah sebagai berikut:
* Sekolah ini tidak menerapkan tes masuk pada siswa barunya. Biasanya sekolah ini menggunakan sebuah perangkat riset untuk mengetahuai kondisi kemampuan siswa yang masuk ke sekolah tersebut. Perangkat ini dikenal dengan Multiple Intelligence Research (MIR) yang mampu mengetahui banyak dimensi kondisi kemampuan dan kekurangan siswa terutama tentang bagaimana gaya belajar siswa.
* Sekolah dan guru pada sekolah ini akan mendapatkan sebuah kenyataan tentang kemampuan akademik dan moral siswa-siswa barunya sangat beragam. Sehingga hal ini merupakan tantangan bagi guru untuk mengubah menjadi ke arah positif. Akhirnya guru-guru di sekolah ini dituntut menjadi ”agen perubah” . Mengubah kondisi akademik dan moral siswa yang negatif menjadi positif.
* Menurut Tom J. Parkins, inilah sekolah yang sebenarnya, sekolah yang menerima segala kondisi siswanya. Kemudian kondisi itu dipelajari dan diteliti, lalu dengan data tersebut, para guru mencoba mengembangkan kemampuan siswa-siswanya dengan cara yang berbeda-beda. Sekolah unggul adalah sekolah yang menitik beratkan pada kualitas proses pembelajaran, dan ini ada pada pundak guru, bukan pada kualitas input siswanya.
* Guru-guru pada sekolah ini biasanya kreatif, sebab meyakini bahwa gaya mengajar guru tersebut harus disesuaikan dengan gaya belajar siswanya. Tuntutan mengajar dengan pola demikian hanya dapat dilakukan oleh guru-guru yang handal, punya dedikasi dan kompetensi mengajar yang baik. Dengan demikian sekolah yang menerapkan konsep ini, biasanya jadwal pelatihan guru sangat padat. Guru benar-benar diharapkan profesional dan menjadi agen perubah.
Seorang kawan, Tom J. Parkins, yang akan menamatkan program doktoral di Harvard University meminta bantuan penulis untuk meneliti indikator-indikator sekolah unggul yang ada di Indonesia. Tentu saja penulis dibekali beberapa alat-alat riset, baik yang berupa questioner baku maupun yang harus “disesuaikan” dengan kondisi di Indonesia. Setelah bekerja sama selama 3 bulan, Tom J. Parkins memberikan kesimpulan yang luar biasa!
Indikator sebuah sekolah dapat dilihat dari tiga komponen, yaitu INPUT, PROSES, dan OUTPUT.
Pada komponen INPUT, adalah dititikberatkan pada bagaimana sekolah tersebut menerima siswa baru. Ada dua konsep yang berbeda dalam cara sekolah menerima siswa barunya, yaitu:
1. Sekolah dengan konsep ”BEST INPUT”
Sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT”, yaitu bahwa siswa-siswa unggul yang diharapkan masuk dan mendaftar di sekolah tersebut dengan cara harus melewati beberapa tes formal dan kognitif. Sekolah tersebut meyakini bahwa keunggulan sekolahnya berdasarkan keunggulan akademik siswa-siswa baru yang lulus tes masuk. Artinya sekolah unggul adalah sekolah yang inputnya unggul.
Ciri-ciri sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT” adalah sebagai berikut:
· Menerapkan tes masuk kepada siswa-siswa yang akan mendaftar ke sekolah tersebut. Tes masuk ini bahkan menilai kemampuan akademik siswa dan moral siswa. Diharapkan siswa yang diterima adalah siswa-siswa yang mempunyai nilai akademik positif (baca: pandai) dan moral positif (baca: baik, tidak nakal).
· Apabila jumlah siswa yang mendaftar melebihi jumlah kapasitas sekolah, maka siswa yang berhasil diterima adalah hasil sortir dari nilai tes masuk yang tertinggi sampai sebatas jumlah kapasitas yang tersedia. Sedangkan siswa-siswa yang nilainya tidak masuk atau lebih dari kapasitas sekolah tersebut maka dianggap tidak berhasil diterima di sekolah tersebut.
· Biasanya sekolah tersebut tidak lagi menganggap perlu tahap proses pembelajaran. Terutama para guru sudah merasa cukup mengajar biasa-biasa saja sebab kebanyakan siswanya pandai-pandai.
· Biasanya sekolah tersebut mempunyai guru-guru yang cara mengajarnya konservatif dan tidak kreatif.
· Keberhasilan sekolah tersebut pada output lebih disebabkan keunggulan dan minat siswa dan keluarganya untuk dapat berhasil lulus. Sedangkan peranan guru dalam keberhasilan siswanya relatif kecil.
Kritik untuk sekolah ”BEST INPUT”:
· Menurut Tom J. Parkins, hampir 99% sekolah di Indonesia dalam model penerimaan siswa barunya menganut ”BEST INPUT”. Hal ini berlaku juga pada sekolah yang dikatakan unggul atau favorit. Hanya beberapa sekolah unggul saja di Indonesia yang sudah meninggalkan konsep ini.
· Sekolah ”BEST INPUT” mengkerdilkan fungsi sekolah sebenarnya. Menurut Tom, sekolah pada hakekatnya adalah wadah untuk untuk mengubah siswa-siswa yang belajar di dalamnya untuk dapat berhasil. Jadi sekolah dan guru adalah sebagai ”agen perubah” siswa-siswanya. Sekolah dan guru harus mampu mengubah siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral negatif menjadi siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral positif. Jadi dapat dikatakan naif sekali apabila sekolah malah tidak menginginkan siswa-siswa yang mempunyai kelemahan yang daftar dan masuk ke sekolah tersebut. Sekolah seperti itu berarti sekolah yang tidak melakukan fungsinya sebagai ”agen perubah”.
· Kualitas Tes Masuk pada sekolah BEST INPUT juga perlu dievaluasi. Artinya sangat tidak manusiawi. Menilai kemampuan siswa dengan besarnya angka-angka kognitif pada kualitas pengetahuan yang rendah sangat tidak adil. Penulis pernah menginterview seorang kepala sekolah sebuah SD di Surabaya tentang tes masuk penerimaan siswa baru. Kepala sekolah tersebut mengatakan bahwa di sekolahnya siswa yang dapat diterima di sekolahnya adalah yang mempunyai nilai 75 ke atas. Sedangkan nilai 74 ke bawah tidak diterima. Ketika penulis menanyakan kepada kepala sekolah tersebut tentang sebenarnya apa bedanya nilai 75 dan 74, hanya terpaut 1 digit saja, namun punya dampak yang berbeda. Seseorang tidak dapat masuk sekolah yang diinginkannya hanya karena kurang 1 digit. Tentu saja kepala sekolah tersebut tidak mampu menjawabnya.
· Kualitas guru pada sekolah yang menganut konsep ini, biasanya juga rendah atau biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa pada mutu guru. Bahkan menurut penelitian penulis pada sekolah yang favorit di Surabaya, beberapa guru bahkan dianggap ”gagap teknologi” (baca: gaptek) oleh siswa-siswanya dalam hal teknologi internet. Guru merasa tidak harus berusaha sekuat mungkin untuk mengubah siswanya menjadi pandai dan mengerti banyak ilmu pengetahuan, sebab kebanyakan siswanya sudah pandai. Apalagi biasanya siswa sudah kursus banyak bidang studi di luar sekolah.
2. Sekolah dengan konsep ”BEST PROCESS”
Sekolah yang menganut konsep bahwa sekolah unggul tidak menitikberatkan pada kualitas akademik siswa-siswa baru yang masuk ke sekolah tersebut. Sekolah model ini dengan suka cita menerima semua siswa dalam kondisi apapun.
Ciri-ciri sekolah yang menganut ”BEST PROCESS” ini adalah sebagai berikut:
* Sekolah ini tidak menerapkan tes masuk pada siswa barunya. Biasanya sekolah ini menggunakan sebuah perangkat riset untuk mengetahuai kondisi kemampuan siswa yang masuk ke sekolah tersebut. Perangkat ini dikenal dengan Multiple Intelligence Research (MIR) yang mampu mengetahui banyak dimensi kondisi kemampuan dan kekurangan siswa terutama tentang bagaimana gaya belajar siswa.
* Sekolah dan guru pada sekolah ini akan mendapatkan sebuah kenyataan tentang kemampuan akademik dan moral siswa-siswa barunya sangat beragam. Sehingga hal ini merupakan tantangan bagi guru untuk mengubah menjadi ke arah positif. Akhirnya guru-guru di sekolah ini dituntut menjadi ”agen perubah” . Mengubah kondisi akademik dan moral siswa yang negatif menjadi positif.
* Menurut Tom J. Parkins, inilah sekolah yang sebenarnya, sekolah yang menerima segala kondisi siswanya. Kemudian kondisi itu dipelajari dan diteliti, lalu dengan data tersebut, para guru mencoba mengembangkan kemampuan siswa-siswanya dengan cara yang berbeda-beda. Sekolah unggul adalah sekolah yang menitik beratkan pada kualitas proses pembelajaran, dan ini ada pada pundak guru, bukan pada kualitas input siswanya.
* Guru-guru pada sekolah ini biasanya kreatif, sebab meyakini bahwa gaya mengajar guru tersebut harus disesuaikan dengan gaya belajar siswanya. Tuntutan mengajar dengan pola demikian hanya dapat dilakukan oleh guru-guru yang handal, punya dedikasi dan kompetensi mengajar yang baik. Dengan demikian sekolah yang menerapkan konsep ini, biasanya jadwal pelatihan guru sangat padat. Guru benar-benar diharapkan profesional dan menjadi agen perubah.
Siswa SMP LIK mengadakan lomba melukis
Info LIK –setelah pagi hari berjalan-jalan ke pacuan kuda dan berenang di kolam renang Hotel Sukabumi Indah, paras siswa SMP boarding Lazuardi Insan Kamil mendapatkan kehormatan dengan kedatangan Bapak Hanung Sukendro, pelukis profesiomal terkenal Indonesia.
Turut hadir dalam acara ini ayah dan ibunda Alif Panduwibowo yang mendapingi acara hingga akhir. Sejatinya hari Sabtu kemarin adalah jadwal ayahanda Alif mengisi program PARENT TEACHING dengan tema lingkungan hidup, sesuai atar belakang pekerjaan beliau, namun beliau berikan kesempatan kepada bapak Hanung –yang ternyata kakak kandung beliau- setelah sebelumnya mengisi tentang krisis lingkungan selama beberapa menit.
Pihak sekolah pun tidak menyia-nyiakan kedatangan beliau, beliau diminta untuk berbagai pengaalamannya kepada para siswa. Alhamdulillah beliau menyambutnya dan yang paling alhamdulillah lagi adalah sambutan para siswa LIK saat ditawarkan kesempatan belajar melukis dengan beliau. Saya selaku kepala sekolah dan guru juga turut serta mendampingi para siswa.
Pak Hanung mengawali kelasnya dengan perkenalan, tanya jawab, menjelaskan jenis-jenis dan teknis melukis dan dilanjutkan dengan melukis kuda di atas kanpas.
Saya menyampaikan rasa bangganya atas dukungan para orang tua ikut mensukseskan program Partent Teaching ini yang ternyata sangat positif bagi para siswa. Mereka dapat belajar berabagai ilmu pengetahuan dari lintas disiplin seseuai dengan beragamnya latar belakang para orang tua mereka. kiranya saya berharap program ini akan terus berlanjut dan semoga pula akan menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain.
Acara diakhiri dengan lomba melukis antar siswa. Para siswa diberi selembar kertas gambar yang telah dibummuhi garis panjang, persegi tiga, persegi empat, lingkaran, dan lain sebagainya. Selanjtnya setiap siswa diminta membuat sebuah lukisan dengan star awal dari garis-garis tersebut. Masyaallah Pak Hanum amat terkejut karena dalam waktu kurang dari dua puluh menit para siswa sudah menyelesaikannya dengan hasil lukisan yang luar biasa unik. Pak Hanum pun langsung mengumumkan lukisan delapan siswa terbaik; Reza Ahmed, Diki, M. Sahal, Robbi Kurniawan, Farhan Ainu, Alif , Ian dan Irvan. Wassalam.
Turut hadir dalam acara ini ayah dan ibunda Alif Panduwibowo yang mendapingi acara hingga akhir. Sejatinya hari Sabtu kemarin adalah jadwal ayahanda Alif mengisi program PARENT TEACHING dengan tema lingkungan hidup, sesuai atar belakang pekerjaan beliau, namun beliau berikan kesempatan kepada bapak Hanung –yang ternyata kakak kandung beliau- setelah sebelumnya mengisi tentang krisis lingkungan selama beberapa menit.
Pihak sekolah pun tidak menyia-nyiakan kedatangan beliau, beliau diminta untuk berbagai pengaalamannya kepada para siswa. Alhamdulillah beliau menyambutnya dan yang paling alhamdulillah lagi adalah sambutan para siswa LIK saat ditawarkan kesempatan belajar melukis dengan beliau. Saya selaku kepala sekolah dan guru juga turut serta mendampingi para siswa.
Pak Hanung mengawali kelasnya dengan perkenalan, tanya jawab, menjelaskan jenis-jenis dan teknis melukis dan dilanjutkan dengan melukis kuda di atas kanpas.
Saya menyampaikan rasa bangganya atas dukungan para orang tua ikut mensukseskan program Partent Teaching ini yang ternyata sangat positif bagi para siswa. Mereka dapat belajar berabagai ilmu pengetahuan dari lintas disiplin seseuai dengan beragamnya latar belakang para orang tua mereka. kiranya saya berharap program ini akan terus berlanjut dan semoga pula akan menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain.
Acara diakhiri dengan lomba melukis antar siswa. Para siswa diberi selembar kertas gambar yang telah dibummuhi garis panjang, persegi tiga, persegi empat, lingkaran, dan lain sebagainya. Selanjtnya setiap siswa diminta membuat sebuah lukisan dengan star awal dari garis-garis tersebut. Masyaallah Pak Hanum amat terkejut karena dalam waktu kurang dari dua puluh menit para siswa sudah menyelesaikannya dengan hasil lukisan yang luar biasa unik. Pak Hanum pun langsung mengumumkan lukisan delapan siswa terbaik; Reza Ahmed, Diki, M. Sahal, Robbi Kurniawan, Farhan Ainu, Alif , Ian dan Irvan. Wassalam.
Jumat, 25 Februari 2011
Ahmad Ja’far, Aku Ingin Jadi Pemain Basket Internasional
By Munif Chatib
Ketika pertama kali melihatnya, saya tersenyum dan Ja’farpun tersenyum. Ya dia murah senyum. Badannya kecil, mungkin paling kecil di antara EAGLE SQUAD SMP LIK SUKABUMI. Tapi Ja’far sangat gesit.
“Pak Munif, Sekolah di sini nyaman ya. Terus pelajarannya itu lho kog gampang-gampang ya he he he he..,” jawab Ja’far ketika saya tanya satu semester di SMP LIK SUKABUMI.
“Aku dulu ini suka berantem lho, padahal itu tinggal sama orangtua, herannya sekarang tinggal di pondokan, kumpul dengan teman-teman yang luar biasa, aku jadi jarang berantem. Dan yang paling membuatku kaget, aku dulu gak pernah mencuci piring sehabis makan. Di sekolah ini aku harus mencuci piring. Awalnya aku tidak mau, namun sekarang aku tahu, hal itu dilakukan agar aku mandiri. Alhamdulillah aku lebih mandiri sekarang.”
“Apalagi guru-gurunya enak diajak ngomong, seperti sahabat. Aku dan teman-teman kalau ingin nakal jadi sungkan rasanya. Aku dapat tugas kelompok yang hebat, yaitu GOTONG ROYONG MEMBUANG SAMPAH. Dan tugas individuku adalah MENGINGATKAN TEMAN AGAR LEBIH BAIK. Kayak ustad gitu he .. he .. he ...”
Ketika saya tanya, harapan atau keinginan apa yang Ja’far tulis di botol impian. Ja’far menjawab:
“Aku tulis ingin menjadi pemain basket internasional, tau gak biar badanku ini tinggi he he he.”
Ayo kejar impianmu Ja’far ... doaku dan doa kedua orangtuamu selalu menyelimuti setiap tarikan nafasmu.
SMP LIK Salabintana Sukabumi menerima pendaftaran, Alamat Sekolah:Jl. Salabintana Km. 6 Kp. Nyangkokot Rt. 01/03 Ds. Karawang Kec. Sukabumi, Sukabumi 43151. Telp (0266) 6248274 atauHasan Mawardi : 0817109392 Fadhil : 0266 6248274
blog; http://www.lazuardiinsankamil.blogspot.com/web: www.sekolah-unggul.com
Smp Lazuardi Insan Kamil; biasa disama AJ (ahmad Ja`far).siswaku yang satu ini sangat keukeuh dengan cita-citanya, "kan biar tambah tinggi sir, jawabnya kalau ditanya kenapa hobi banget basket. kekhasannya adalah selalu tersenyum, berani dan suka tawar2an dengan guru; "kan qabliyyah itu sunnah sir boleh dikerjakan boleh tidak..." bantahnya krn tidak mau shalat qabliyyah. al-hasil siswa yg satu ini sangat tidak bisa diam
Smp Lazuardi Insan Kamil untuk AJ dan juga siswa-siswaku yang lain semoga citat2mu tercapai dan semoga guru2 bisa mengantarkan kalian sampai pada cita-cita tsb. aamiiin
Norofikah Icha Amin...salam sukses untuk Ja'far!
Marwan Fadhil
satu hal yang membuat aku kagum sama dia.. dulu sebelum masuk ke LIk, dia mendapatkan musibah kakinya patah dan hampir 1 bulan dia tidak bisa berjalan dan harus di bantu dg tongkat. bahkan ketika sudah di LIk-pun dia masih harus ndibantu d...g tongkat, namun alhamdulillah dg sering sekarang dia sudah bisa berlari dg kencang. saya punya spesial moment bersama dia, yaitu pada saat belajar fiqih kemaren, ketika saya membuat simulasi khutbah jum'at dg PDnya dia mengacungkan tangan " saya Mr jadi Khatibnya..." setelah beres saya tanya. "...gimna perasaanya.." dia menjawab " kalo jum'atn nanti saya siap jadi Khatib" heeee... begitulah AJ.. anaknya pede dan kekeh sekarang dia sudah mulai mandiri.. ayo kita terbang AJ-ku... pasukannku..See More
Fathima Huriyya
Saya sebagai mamanya menangis campur bahagia membaca tulisan p munif ini. Teringat ketika awal kami berniat menyekolahkan ja'far di SMP LIK, kami banyak mendapat protes dan keluarga dan lingkungan sekitar. Kata mereka anak masih SMP kok dis...ekolahkan jauh2, krn kebetulan saya tinggal di sby, tetapi kami keukeuh karena kami berpikir utk kebaikan ja'far dan alhamdulillah banyak perubahan ja'far ke arah yg lebih baik. Dan ketika liburan semester kemaren, keluarga yg awalnya protes malah akhirnya memuji keputusan kami menyekolahkan ja'far di SMP LIK.
Ada moment ketika saya mengantarkan ja'far kembali ke sukabumi sehabis liburan semester kemaren, ini pertama kalinya saya bisa ke sukabumi. Selama perjalanan di mobil bersama seluruh keluarga dia tidur di pangkuan saya sambil tangannya memeluk pinggan saya. Saya melihat matanya berkaca2, krn memang saat2 sehabis libur panjang menjadi moment yg susah untuk kembali lagi ke skolah dan berpisah dgn keluarga. Pada saat itu sambil menyembunyikan matanya yg berkaca2 dia bicara, "ma, nanti ja'far kalau kuliah mau di luar negri ya", saya dengan menahan air mata menjawa ya nak insya Allah, tapi ja'far harus sukses dan belajar yg rajin di SMP LIK dan insya Allah di SMA nya juga. Dengan mantap dia menganggukan kepala. Dan hr ini saya membaca kisah dr p munif dan dr teman2 guru insya Allah saya bertambah yakin ja'far bisa menjadi org yg sukses di sekolah ini karena dipegang langsung oleh guru2 yg kompeten.
Terima kasih p munif telah menumbuhkan semangat anak2 kami menjadi lebih punya mimpi.
Terima kasih untuk guru2 LIK telah sabar mendidik anak2 kami agar menjadi pribadi yg sukses dunia dan akheratnya. Mohon maaf saya belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung karena jarak dan tanggung jawab yg harus saya laksanakan di sby.
Terima kasih ja'far anakku sudah berusaha menjadi anak yg sukses mandiri dan berani, doa mama dan ayah selalu menyertaimu nak semoga kamu menjadi anak yg sukses dunia akherat dan punya manfaat utk ummat... AmienSee More
Kamil Smile
Terharuuuuu Hikz Hikz Hikz.....
Hidup Ja'far,
Hidup SMP LIK,
Hidup Pak Munif,
...Hidup Sekolah ManusiaSee More
Raguan Rahmawati @kak hur: wati baca tulisan kak hur lebih nangis lg.....sekarang saatnya menanam dan bersabar menunggu masa panen kelak...insyaallah allah memandang dengan pandangan rahmat pada usaha kak hur dan iwan....amiinn
Jihan Alatas huuaaaww....aq mewek kak,mrebes mili...(sambil bayangin karim disana)
Smp Lazuardi Insan Kamil; untuk Ibu Fathimah Hurriyah, Bunda AJ. doeloe sewaktu saya minta mondok d Bangil, mamah nangis sejadi2nya, maklum saya anak laki2 tunggal, nanti saja kalau sudah lulus SMPeeeeee huk huk huk , ya...kheir nanti setelah lulus SMP baru ke sana. tiga thn waktu berjalan dan saya pun lulus SMP, saya minta kembali tuk melanjutkan ke Bangi, walllaaah tuh yang namanya mamah berusaha bagaimana supaya tidak jadi di Bangil, yg deket2 aja di Sukabumi -kebetulan saja asli Sukabumi-, Cianjur atau Bandung. Aba pun maraaaah...mau kapan lagi kalau bukan sekarang. saya pun pergi dihantar linangan air mata mamah. setelah di sana hampir jarang tuh ingat rumah kecuali...... pas kehabisan duit he..he...he.., konon mamah tidak bisa makan sampai tiga bulan, sampai jatuh sakit saya pun tidak dikasih tahu. Aba bilang -boong sih-, mama sehat2 aja malah sekarang senang kamu betah di pondok.
Smp Lazuardi Insan Kamil; jika dulu setiap semesteran dan liburan puasa saya dari Suarabaya pulang ke Sukabumi, sekarang giliran AJ yang pulang dari Sukabumi ke Surabaya. kokk tukeran sih Jee?
Ketika pertama kali melihatnya, saya tersenyum dan Ja’farpun tersenyum. Ya dia murah senyum. Badannya kecil, mungkin paling kecil di antara EAGLE SQUAD SMP LIK SUKABUMI. Tapi Ja’far sangat gesit.
“Pak Munif, Sekolah di sini nyaman ya. Terus pelajarannya itu lho kog gampang-gampang ya he he he he..,” jawab Ja’far ketika saya tanya satu semester di SMP LIK SUKABUMI.
“Aku dulu ini suka berantem lho, padahal itu tinggal sama orangtua, herannya sekarang tinggal di pondokan, kumpul dengan teman-teman yang luar biasa, aku jadi jarang berantem. Dan yang paling membuatku kaget, aku dulu gak pernah mencuci piring sehabis makan. Di sekolah ini aku harus mencuci piring. Awalnya aku tidak mau, namun sekarang aku tahu, hal itu dilakukan agar aku mandiri. Alhamdulillah aku lebih mandiri sekarang.”
“Apalagi guru-gurunya enak diajak ngomong, seperti sahabat. Aku dan teman-teman kalau ingin nakal jadi sungkan rasanya. Aku dapat tugas kelompok yang hebat, yaitu GOTONG ROYONG MEMBUANG SAMPAH. Dan tugas individuku adalah MENGINGATKAN TEMAN AGAR LEBIH BAIK. Kayak ustad gitu he .. he .. he ...”
Ketika saya tanya, harapan atau keinginan apa yang Ja’far tulis di botol impian. Ja’far menjawab:
“Aku tulis ingin menjadi pemain basket internasional, tau gak biar badanku ini tinggi he he he.”
Ayo kejar impianmu Ja’far ... doaku dan doa kedua orangtuamu selalu menyelimuti setiap tarikan nafasmu.
SMP LIK Salabintana Sukabumi menerima pendaftaran, Alamat Sekolah:Jl. Salabintana Km. 6 Kp. Nyangkokot Rt. 01/03 Ds. Karawang Kec. Sukabumi, Sukabumi 43151. Telp (0266) 6248274 atauHasan Mawardi : 0817109392 Fadhil : 0266 6248274
blog; http://www.lazuardiinsankamil.blogspot.com/web: www.sekolah-unggul.com
Smp Lazuardi Insan Kamil; biasa disama AJ (ahmad Ja`far).siswaku yang satu ini sangat keukeuh dengan cita-citanya, "kan biar tambah tinggi sir, jawabnya kalau ditanya kenapa hobi banget basket. kekhasannya adalah selalu tersenyum, berani dan suka tawar2an dengan guru; "kan qabliyyah itu sunnah sir boleh dikerjakan boleh tidak..." bantahnya krn tidak mau shalat qabliyyah. al-hasil siswa yg satu ini sangat tidak bisa diam
Smp Lazuardi Insan Kamil untuk AJ dan juga siswa-siswaku yang lain semoga citat2mu tercapai dan semoga guru2 bisa mengantarkan kalian sampai pada cita-cita tsb. aamiiin
Norofikah Icha Amin...salam sukses untuk Ja'far!
Marwan Fadhil
satu hal yang membuat aku kagum sama dia.. dulu sebelum masuk ke LIk, dia mendapatkan musibah kakinya patah dan hampir 1 bulan dia tidak bisa berjalan dan harus di bantu dg tongkat. bahkan ketika sudah di LIk-pun dia masih harus ndibantu d...g tongkat, namun alhamdulillah dg sering sekarang dia sudah bisa berlari dg kencang. saya punya spesial moment bersama dia, yaitu pada saat belajar fiqih kemaren, ketika saya membuat simulasi khutbah jum'at dg PDnya dia mengacungkan tangan " saya Mr jadi Khatibnya..." setelah beres saya tanya. "...gimna perasaanya.." dia menjawab " kalo jum'atn nanti saya siap jadi Khatib" heeee... begitulah AJ.. anaknya pede dan kekeh sekarang dia sudah mulai mandiri.. ayo kita terbang AJ-ku... pasukannku..See More
Fathima Huriyya
Saya sebagai mamanya menangis campur bahagia membaca tulisan p munif ini. Teringat ketika awal kami berniat menyekolahkan ja'far di SMP LIK, kami banyak mendapat protes dan keluarga dan lingkungan sekitar. Kata mereka anak masih SMP kok dis...ekolahkan jauh2, krn kebetulan saya tinggal di sby, tetapi kami keukeuh karena kami berpikir utk kebaikan ja'far dan alhamdulillah banyak perubahan ja'far ke arah yg lebih baik. Dan ketika liburan semester kemaren, keluarga yg awalnya protes malah akhirnya memuji keputusan kami menyekolahkan ja'far di SMP LIK.
Ada moment ketika saya mengantarkan ja'far kembali ke sukabumi sehabis liburan semester kemaren, ini pertama kalinya saya bisa ke sukabumi. Selama perjalanan di mobil bersama seluruh keluarga dia tidur di pangkuan saya sambil tangannya memeluk pinggan saya. Saya melihat matanya berkaca2, krn memang saat2 sehabis libur panjang menjadi moment yg susah untuk kembali lagi ke skolah dan berpisah dgn keluarga. Pada saat itu sambil menyembunyikan matanya yg berkaca2 dia bicara, "ma, nanti ja'far kalau kuliah mau di luar negri ya", saya dengan menahan air mata menjawa ya nak insya Allah, tapi ja'far harus sukses dan belajar yg rajin di SMP LIK dan insya Allah di SMA nya juga. Dengan mantap dia menganggukan kepala. Dan hr ini saya membaca kisah dr p munif dan dr teman2 guru insya Allah saya bertambah yakin ja'far bisa menjadi org yg sukses di sekolah ini karena dipegang langsung oleh guru2 yg kompeten.
Terima kasih p munif telah menumbuhkan semangat anak2 kami menjadi lebih punya mimpi.
Terima kasih untuk guru2 LIK telah sabar mendidik anak2 kami agar menjadi pribadi yg sukses dunia dan akheratnya. Mohon maaf saya belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung karena jarak dan tanggung jawab yg harus saya laksanakan di sby.
Terima kasih ja'far anakku sudah berusaha menjadi anak yg sukses mandiri dan berani, doa mama dan ayah selalu menyertaimu nak semoga kamu menjadi anak yg sukses dunia akherat dan punya manfaat utk ummat... AmienSee More
Kamil Smile
Terharuuuuu Hikz Hikz Hikz.....
Hidup Ja'far,
Hidup SMP LIK,
Hidup Pak Munif,
...Hidup Sekolah ManusiaSee More
Raguan Rahmawati @kak hur: wati baca tulisan kak hur lebih nangis lg.....sekarang saatnya menanam dan bersabar menunggu masa panen kelak...insyaallah allah memandang dengan pandangan rahmat pada usaha kak hur dan iwan....amiinn
Jihan Alatas huuaaaww....aq mewek kak,mrebes mili...(sambil bayangin karim disana)
Smp Lazuardi Insan Kamil; untuk Ibu Fathimah Hurriyah, Bunda AJ. doeloe sewaktu saya minta mondok d Bangil, mamah nangis sejadi2nya, maklum saya anak laki2 tunggal, nanti saja kalau sudah lulus SMPeeeeee huk huk huk , ya...kheir nanti setelah lulus SMP baru ke sana. tiga thn waktu berjalan dan saya pun lulus SMP, saya minta kembali tuk melanjutkan ke Bangi, walllaaah tuh yang namanya mamah berusaha bagaimana supaya tidak jadi di Bangil, yg deket2 aja di Sukabumi -kebetulan saja asli Sukabumi-, Cianjur atau Bandung. Aba pun maraaaah...mau kapan lagi kalau bukan sekarang. saya pun pergi dihantar linangan air mata mamah. setelah di sana hampir jarang tuh ingat rumah kecuali...... pas kehabisan duit he..he...he.., konon mamah tidak bisa makan sampai tiga bulan, sampai jatuh sakit saya pun tidak dikasih tahu. Aba bilang -boong sih-, mama sehat2 aja malah sekarang senang kamu betah di pondok.
Smp Lazuardi Insan Kamil; jika dulu setiap semesteran dan liburan puasa saya dari Suarabaya pulang ke Sukabumi, sekarang giliran AJ yang pulang dari Sukabumi ke Surabaya. kokk tukeran sih Jee?
Langganan:
Postingan (Atom)