Senin, 08 November 2010

Mendidik Ala Multiple Intelligence

“Tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah guru yang tidak sanggup menggali potensi anak, dan tidaklah seorang guru tak mampu menggali potensi anak kecuali pihak managemen yang jarang memberi pelatihan pada guru-gurunya”, demikian pernyataan seorang Munif Chatib, pakar Multiple Intelligence saat mengisi pelatihan guru-guru SMP Boarding Lazuardi Insan kamil Sukabumi.
Pernyataan demikian sekalipun nampak bombastis, sebetulnya sesuai dengan paradigma baru pendidikan yang sedang berkembang di dunia sekarang, bahwa setiap anak dilahirkan dalam kondisi cerdas. Nampak bombastis karena kenyataan ini memang berlawanan dengan persepsi yang diyakini selama ini bahwa anak cerdas berjumlah terbatas, seakan-akan mereka menempati strata tertentu. Adanya penemuan terbaru ini memang diharapkan akan mengubah pendekatan pendidikan yang selama ingi terlanjur mapan.
Mengingat pentingnya penyamaan paradigma, terutama diantara para guru bahwa setiap anak adalah cerdas, memompa kreativitas mengajar guru adalah kunci terpenting agar kecerdasan setiap anak terkuak keluar. Dan untuk kepentingan itu, SMP Lazuardi Insan kamil konsisten mengembangkan kreativitas mengajar para guru dengan berbagai pelatihan dan menghadiri seminar-seminar pendidikan. Setiap guru yang baru direkrut akan disertakan dalam pelatihan bersama Lazuardi Next, observasi dan magang mengajar di SMP Lazuardi di Cinere (Lazuardi Pusat) dan SMP Lazuardi Cilandak-Jakarta. Selain itu, mereka akan terus mendapatkan kesempatan pelatihan dan konsultasi Lesson Plan dua hari dalam satu bulan bersama Munif Chotib, pakar Multiple Intelligence yang konsisten mengkolsuntani sekolah yang belum lama berdiri ini. Dan agar para guru memahami kebutuhan para siswa boarding, masing-masing guru dikirim ke beberapa sekolah boarding di dalam dan di luar Sukabumi; Al-Kautsar, Al-Bayan, SMA Lazuardi, Smart Ekselensia, dan lain-lain.
Kembali pada tema kecerdasan, Menurut Dr Thomas Amstrong, pakar pendidikan dari Amerika setiap anak dilahirkan dengan membawa potensi yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Sifat yang menjadi bawaan itu antara lain: keingintahuan, daya eksplorasi terhadap lingkungan, spontanitas, vitalitas, dan fleksibilitas. Dipandang dari sudut ini maka tugas setiap orang tua dan guru hanyalah mempertahankan sifat-sifat yang mendasari kecerdasan ini agar bertahan sampai anak-anak itu tumbuh dewasa. Mengapa demikian? Karena ternyata diketahui kualitas kecerdasan ini bisa rusak karena adanya sebab tertentu. Ironisnya pengaruh kuat yang merusak potensi kecerdasan itu ternyata datang dari lingkungan terdekat mereka: rumah dan sekolah!
Situasi rumah yang menimbulkan depresi dan keterasingan berperan memupus bakat alamiah ini. Tekanan juga bisa datang dari orang tua yang karena sebab tertentu malah menghambat kreatifitas, keingintahuan, kegembiraan dalam bermain anak-anak. Ambisi orang tua agar anak-anak mereka meraih prestasi tertentu mendorong anak-anak ini untuk tumbuh terlampau cepat melampaui usia mental mereka dan pada saat bersamaan menghilangkan kegembiraan masa kecil mereka. Mereka pun harus kehilangan kegembiraan masa kecilnya. Mereka kerap menanggung beban keinginan orang tua mereka sendiri dengan terpaksa mengikuti berbagai macam kursus: mulai kursus bahasa asing, sempoa, piano dan sebagainya. Jika saja keinginan tersebut datang atas kemauan anak itu sendiri mungkin tidak mengapa.
Sementara itu di sekolah, perusakan potensi kecerdasan alami itu terjadi lewat kurikulum yang terlampau kaku, tidak fleksibel atau malah membebani. Situasi sekolah yang tidak menyenangkan, guru yang mengajar dengan cara yang membosankan juga ikut andil menyumbang terkuburnya potensi alami tersebut.
Bertolak dari kenyataan itulah di SMP Laziardi Insan Kamil dikembangkan pendekatan pendidikan yang menjadi alternatif bagi sekolah pada umumnya. Sekolah yang dirancang atas pendekatan bahwa setiap anak itu mempunyai kecerdasannya sendiri. Lingkungan sekolah dirancang agar anak-anak tumbuh dengan kreatifitas mereka sendiri, tidak kehilangan kegembiraan masa usia perkembangan mereka, dan membuka ruang yang lebar untuk mengeksplorasi lingkungannya. Kecerdasan alami anak dirangsang lewat kegiatan sederhana seperti bercerita, permainan, kunjungan ke tempat tertentu, dan mengajukan pertanyaan kritis.
Untuk mendukung pendekatan tersebut, sekolah tidak lagi menggunakan sistem ranking dan tidak ada tes psikologi untuk mengukur kecerdasan seorang anak. Sebuah tes jauh dari memadai untuk mengukur kemampuan otak manusia. Sistem rangking malah menciptakan pelabelan di sekolah. Ada anak pintar dan ada anak bodoh. Pendekatan pendidikan terbaru dikembangkan atas keyakinan bahwa setiap anak mempunyai kecerdasannya sendiri dengan cara yang benar-benar berbeda dengan anak lain. Karena itu dalam sistem ini upaya membanding-bandingkan antara anak satu dengan anak lainnya dihindari. Satu-satunya tes yang ditempuh adalah tes MIR (Multiple Intelligence Research) yang berfungsi untuk mengetahui jenis kecerdasan yang paling menonjol pada setiap anak. Hasil tes inilah yang kemudian dijadikan titik tolak oleh setiap guru dalam menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar para siswa.
Menggunakan pendekatan Multiple Intelligences yang dikembangkan oleh pakar neurosains Dr Howard Gardner adalah Sebagai konsekuensi yang harus dipilih dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah seperti Lazuardi Insan Kamil. Menurut teori Multiple Intelligences Gardner, manusia mempunyai delapan macam kecerdasan sementara sistem pendidikan pada umumnya hanya mengembangkan dua kecerdasan. Kecerdasan itu adalah: kecerdasan linguistik, matematis-logis, viso-spasial, musik, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Anak didik dipetakan menurut kedelapan kecerdasan ini dan mendidik mereka dengan cara berbeda sesuai dengan tipe kecerdasan yang dimiliki masing-masing anak. Karena itu metode pengajaran yang diterapkan bisa sangat khas. Dalam mengajarkan bahasa misalnya, maka cara mengajar untuk anak dengan tipe kecerdasan linguistik berbeda dengan anak bertipe kecerdasan matematis-logis dan berbeda pula untuk anak dengan tipe kecerdasan viso-spasial. Pada umumnya para pengajar akan berkeberatan jika murid-murid mereka bergerak selama pelajaran berlangsung, di sisi lain anak dengan tipe kecerdasan kinestetik -yang selalu bergerak- akan tersiksa jika mereka harus duduk diam selama pelajaran berlangsung, padahal anak dengan tipe ini akan sangat cepat menyerap pelajaran justru dengan membiarkannya bergerak. Pola inilah yang dikenal dengan mendidik sesuai kecerdasan anak. Atau kesesuaian antara gaya mengajar guru dan gaya belajar anak.
Para pendidik di sekolah seperti ini mempunyai keyakinan bahwa tiap anak mempunyai kecepatan dan waktu tersendiri dalam mempelajari atau menguasai sesuatu. Jadi tidak perlu memaksa anak yang belum bisa menulis karya ilmiah untuk bisa menulis ilmiah misalnya. Sebab jika tiba saatnya anak ini akan mampu menulis dengan sendirinya bahkan kemampuannya bisa melampaui anak yang mampu menulis di usia yang lebih dini. Sangat penting untuk disadari adalah menciptakan kondisi yang mampu membuka gerbang kecintaan anak-anak akan pembelajaran. Dengan cara itu diharapkan kita akan mewariskan generasi pembelajar yang mampu untuk belajar dan mengembangkan diri mereka sendiri sepanjang hidup mereka. Dan hal itu bisa dicapai dengan cara menghindarkan setiap kondisi yang membuat mereka justru berhenti atau bahkan membenci proses pembelajaran itu sendiri.
(hasan mawardi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar